Background Ambience
Menghargai Waktu, Menjaga Adab: Wujud Nyata Syukur dalam Kehidupan
Cerita Simpul

Menghargai Waktu, Menjaga Adab: Wujud Nyata Syukur dalam Kehidupan

Cerita dari Daur Maiyahan Ma'syar Mahamanikam, 20 Juli 2026

Suhartono
Suhartono

Masih di tempat yang sama, Studio Komunitas Ladang. Hanya lokasinya yang berbeda. Kali ini di serambi Komunitas Ladang. Sejatinya bangunan ini diniatkan sebagai studio musik dan siniar. Alhamdulillah Allah kehendaki rampung 70%. Belum berdinding. Kepindahan lokasi ini sebagai isyarat langit bahwa Maiyahan sebagai Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib harus bebas dari sekat-sekat yang akhirnya membatasi kejujuran dan keterbukaan.

Pukul 20.30 terpal dan karpet sudah terhampar. Tak lama air mineral gelas dan keripik singkong sudah tersuguhkan. Dimulai 21.00 oleh tiga orang; Buya Syafril, Tono (moderator), dan Gus Tohir. Tak lama berduyun saudara-saudara yang lain hadir membersamai, termasuk Yai Anam yang memang sebelumnya di WAG sudah konfirmasi akan telat hadir.

***

Menyepelekan waktu sejatinya adalah bentuk ketidaksyukuran terhadap nikmat yang Allah SWT berikan. Namun, sebelum mentadaburi makna syukur lebih jauh, mari bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah konsisten menjaga kesepakatan?

Ketika ada janji bertemu pukul 20.00, apakah hadir sebelum waktunya sudah menjadi kebiasaan kita? Lalu, beranikah kita bersikap tegas dan menegur dengan bijak siapa pun yang datang terlambat?

Adab Musyawarah dan Kejujuran

Jika waktu pertemuan telah diputuskan melalui musyawarah, di situlah wilayah adab diuji. Misalnya, ketika disepakati janji pukul 20.00, masih ada toleransi keterlambatan hingga 30 menit. Namun, persoalan sering muncul akibat ketidakterbukaan saat musyawarah.

Bila dari 12 orang yang bermusyawarah hanya satu orang yang mengusulkan jam pertemuan dan 11 orang lainnya diam saja—padahal keberatan—maka di situlah nilai syukur menjadi bias. Kejujuran menahan diri, karena “sungkan” jadi alasan. Sebab, menyetujui di depan tetapi menggerutu di belakang justru mendekatkan kita pada tiga ciri kemunafikan: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanah ia khianat. Seperti sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, sebelum keputusan diambil, jujurlah. Sampaikan isi pikiran dengan santun tanpa menyakiti. Sekalipun kejujuran berpotensi memicu benturan, dari sanalah wilayah toleransi dan kelapangan hati kita diuji.

Seni Memprioritaskan Alasan Keterlambatan

Kita bisa belajar dari almarhum W.S. Rendra. Di Bengkel Teater, sang “Burung Merak” memberikan toleransi keterlambatan latihan untuk alasan-alasan yang rasional:

  • Urusan Pasangan: Sepasang kekasih yang sedang kasmaran memiliki dunianya sendiri dan perlu diberi ruang berekspresi.
  • Pekerjaan: Urusan yang menyangkut sandang, pangan, dan papan adalah prioritas utama sebagai bentuk tanggung jawab hidup.
  • Keluarga: Instrumen paling mendasar dalam kehidupan.
  • Ibadah: Ekspresi kesadaran sebagai hamba untuk terus bergantung kepada Sang Pencipta—hal yang sama sekali tidak boleh disepelekan.

Dari pembahasan ini, kita dapat menarik simpulan: tidak menghargai waktu dan melakukan musyawarah secara tidak sehat adalah cermin dari ketidakteraturan rasa syukur.

Syukur sebagai Pola Sikap dan Tindak

Allah SWT mengajarkan manusia untuk senantiasa mengekspresikan rasa syukur. Melalui Surah Al-Fatihah ayat 2, kita diajarkan mengucap “Alhamdulillah”. Lalu pada ayat berikutnya, melalui doa “Ihdinas siratal mustaqim”, Allah memberi isyarat bahwa sesempurna apa pun ikhtiar dan tawakal seseorang, peluang untuk melenceng itu selalu ada.

Oleh karena itu, penting menjadikan syukur sebagai pola sikap dan pola tindak, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat keras.'” (QS. Ibrahim: 7)

Memanfaatkan fasilitas hidup untuk menjalankan fungsi kemanusiaan adalah bentuk ekspresi syukur yang nyata. Sangat anomali jika seseorang mengaku tulus berbuat baik, tetapi masih menyia-nyiakan hal yang dianggap “sepele”—seperti ketidaktepatan waktu dalam berjanji.

Proporsionalitas dan Kepedulian terhadap Sesama

Bentuk syukur lainnya adalah menjaga perasaan sesama melalui tutur kata yang lembut dan teguran yang halus. Dalam bertindak, kita perlu memahami latar belakang (“data antropologis”) lawan bicara agar mampu menerapkan kesantunan (balaghah) secara proporsional.

Sebagai contoh:

  • Menolak Suguhan dengan Halus: Saat sedang berpuasa atau tidak bisa mengonsumsi makanan yang disajikan, kita menolaknya tanpa menyakiti hati sang penjamu.
  • Menjaga Harapan Baik: Menghargai dan menjaga ekspektasi positif yang disematkan orang lain kepada diri kita.
  • Peka terhadap Ujian Orang Lain: Tangguh dan peduli saat ada orang lain yang datang membawa masalahnya—baik untuk mencari solusi maupun sekadar ingin didengar.

Merespons orang yang datang membawa ujian hidupnya harus pandai membaca sebagai “isyarat langit”: bahwa Allah SWT memandang kita mampu menjadi perantara kemudahan bahkan solusi bagi ujian orang tersebut.

Sebagai pungkasan dari ruang sinau bareng pada edisi ke-82 Ma’syar Maiyah Mahamanikam ini, tumpuan doa kita bersama adalah agar kita dimampukan untuk mengefisienkan waktu yang telah Allah anugerahkan, serta menjelmakan syukur menjadi tindakan nyata dalam keseharian.

Samarinda, 23 Juli 2026

Bagikan:
Suhartono

Suhartono

Ma'syar Mahamanikam
Jamaah Maiyah. Penggiat Simpul Maiyah Ma'syar Mahamanikam Kalimantan Timur.
HOME