MBAH NUN DAN KITA

(Mukaddimah Tawashshulan Mensyukuri 70 Tahun Mbah Nun, Lumbung Bailorah Blora, Sabtu 27 Mei 2023) 

Dalam beberapa tulisannya, termasuk naskah teater karya beliau, Mbah Nun beberapa kali menggunakan nama samaran Joko Umbaran dan Ki Sidik Paningal. Sementara itu beliau juga mempunyai gelar kehormatan dari Kerajaan Ternate Ngai Ma Dodera.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada 23 Oktober 2011 atau sehari sebelum pembukaan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 yang berlangsung pada tanggal 24-29 Oktober 2011 di lapangan terbuka Moloku Kie Raha — sebutan Maluku Utara — Ternate, Kesultanan Ternate memberi gelar kehormatan kepada Mbah Nun dengan gelar “Ngai Ma Dodera” yang artinya “pohon yang teduh dan indah tempat burung-burung membangun sarang dan berteduh ketika senja hari”. Waktu itu gelar ini adalah gelar yang baru pertama kalinya diberikan oleh Sultan Ternate.

Sebagai Joko Umbaran, Mbah Nun waktu itu benar-benar merupakan seorang pemuda yang diumbar atau diterlantarkan dalam arti tidak diperhatikan peran dan kiprahnya. Bahkan ‘pengumbaran’ ini masih berlangsung sampai sekarang. Padahal yang Beliau lakukan adalah multiperan dalam berbagai bidang, baik sosial politik, budaya, kesenian, penguatan ekonomi kerakyatan, kekiaian atau keulamaan, dan sebagainya. 

Sebagai Ki Sidik Paningal, penglihatan atau pandangan Beliau terhadap kehidupan dan kesejatian sangat jernih. Orang yang cerdas dengan pengelihatan yang lanthip, akurat, presisi sebagaimana nama yang Beliau sandang: Ainun Nadjib. 

Sebagai Ngai Ma Dodera, Mbah Nun benar-benar menjadi pohon teduh nan indah tempat berteduh bagi siapapun saja, bukan hanya bagi kami para burung kecil anak cucu Maiyah. 

Sebagai diri yang mengaku anak cucu Beliau, apa yang telah dan akan kita lakukan? Pengalaman apa yang Anda dapatkan selama bersentuhan dengan Beliau? Dalam Tawashshulan Mensyukuri 70 tahun Mbah Nun 27 Mei 2023 malam nanti mari kita berbagi pengalaman masing-masing. 

(Redaksi Lumbung Bailorah) 

Lihat juga

Back to top button