Tembang Pepadhang kembali menggelar edisi Sinau Bareng pada 15 Juni 2026 dengan Tema “Solah Durmagati”. Tema yang mengajak kita semua menelaah tokoh pewayangan Durmagati sebagai cerminan manusia sekarang di tengah arus ketidakpastian informasi dan pendapat. Bertempat di Balai Kesenian Remaja Kendal yang sama seperti sebelumnya, tak menyurutkan antusias jamaah untuk bersinau dan bercengkerama bareng di forum yang namanya maiyah.
Forum maiyah selalu punya cara untuk meningkatkan kualitas belajar, tak hanya diskusi antar kelompok kecil, tetapi antar kelompok akbar tanpa sekat formalitas. Berbagai sudut pandang selalu dibahas tanpa membedakan mana yang layak dan mana yang kurang layak.
Diawali dengan munajat oleh Mas Syaiqul Huda, menandakan manusia perlu kesiapan kekhusyukan berdoa sebelum melangkah jauh ke depan. Tujuannya satu: kembali ke Tuhan sebagai Sang Pencipta, inilah yang ditekankan dalam pembelajaran maiyah. Seperti halnya keleluasaan Durmagati yang bertindak semena-mena dan pada akhirnya kembali ke Tuhan.

Durmagati bagian dari Kurawa diperkenalkan sebagai orang yang lucu, lugu, ceplas-ceplos, mudah mengikuti arus tanpa menyaringnya, dan berani bersuara tanpa berprinsip. Selain itu, Durmagati berada dalam keluarga Sengkuni. Nama yang diawali “dur” sering dimaknai sebagai sesuatu yang buruk. Namun, dibalik keburukan tersebut dapat diambil pelajaran bahwa sisi Durmagati saat ini mengajak manusia bercermin bagaimana keburukan tersebut dapat terjadi, bagaimana menyikapinya, dan bagaimana menjadikan kekuatan positif.
Sebelum memasuki sesi diskusi, Kang Muse hadir sebagai penghibur di tengah acara yang nantinya akan menguras pikiran dan energi. Jamaah merasa terhibur dengan memberikan tepukan riuh. Kang Muse semakin bersemangat melanjutkan hiburannya sampai durasi waktu yang ditetapkan.
Dalam pembacaan Maiyah tentang Solah Durmagati, kita diajak memahami bahwa tokoh-tokoh pewayangan tidak selalu telihat baik dan buruk. Duryodana, Sengkuni, Durmagati, dan seluruh lingkaran Kurawa tidak hanya mempresentasikan keburukan, tetapi mencerminkan tentang watak manusia.

Memberi sedekah secara terbuka tidak selalu salah, sebab yang dinilai bukan bentuk penampilannya, tetapi sejauh mana manusia menghadirkan Tuhan dalam dirinya. Namun di sisi lain, kekayaan tanpa kelapangan hati bisa menjadikan manusia seperti Duryudana yang sering dianggap sebagai sosok yang sulit berbagi.
Dari perspektif mahasiswa, pembahasan menyinggung bagaimana manusia sekarang begitu mudah terpengaruh FOMO, ikut-ikut trend viral, dan kesulitan memilah informasi karena banyaknya media sosial. Influencer digunakan sebagai alat politik, opini bisa direkayasa, dan kebijakan publik sering tampak kacau di tengah informasi yang tak jelas lagi.
Sedangkan dari Gus Muis menelaah Durmagati bukan sekadar kelucuan, keluguan, tetapi sebagai sumber masalah untuk umat manusia. Hal ini dihubungkan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud—bagaimana ego yang tidak diatur dengan baik bisa menyeret manusia pada perilaku manipulatif, provokatif, bahkan merusak. Fitnah, rekayasa, dan hasrat menjatuhkan orang lain bisa muncul ketika dorongan agresif dalam diri tak lagi dikendalikan oleh pikiran sehat dan kesadaran batin.

Ego atau super ego dalam perjalanan batin bukan sekadar dimatikan, tetapi diarahkan dengan bijaksana. Sebuah laku untuk mengendalikan nafsu, yang dalam istilah Jawa sering disebut sebagai mati sajroning urip — menghilangkan keserakahan dan keegoisan sebelum kematian yang sebenarnya.
Seperti pitutur Gus Muis: ajur ajar, momot kamot — manusia perlu meredakan kesombongan, belajar menerima, menampung perbedaan, dan menjadi tempat yang terbuka bagi kehidupan.
Malam itu Gus Muis juga menggarisbawahi: ojo adigang, adigung, adiguna artinya janganlah menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki. Begitu juga halnya dengan beragama jangan merasa paling benar dan beragamalah dengan yang benar. Ketika manusia sekarang menyombongkan diri hasilnya menjadi boomerang untuk diri sendiri, yang awalnya disegani menjadi dikucilkan orang-orang. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi justru sangat relevan di tengah dunia yang makin gemar memamerkan segala hal, pengaruh, jabatan, dan kecerdasan.
Maka pelajaran Durmagati adalah tentang mengenali diri sendiri, melihat sejarah diri sendiri (mulai sarira), memahami nafsu, dan mengolah ego menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, Solah Durmagati bukan hanya tentang Kurawa. Ia adalah pertanyaan bagi diri sendiri yang dibiarkan menjadi PR untuk dibawa pulang: Seberapa besar kita menghadirkan Tuhan dalam diri sendiri? Seberapa sering kita menilai orang lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri? Dan apakah kita benar-benar mengenali siapa yang sedang kita lawan — orang lain, atau sisi gelap dalam diri kita?
Sebab hal yang paling sulit bukanlah mengamati watak Durmagati, melainkan mengenali saat watak tersebut diam-diam hadir di hidup kita. Diam-diam hadir mengikuti trend tanpa memikirkan dampaknya, diam-diam menyuarakan tanpa mempertimbangkan, dan diam-diam merasa benar padahal belum tentu benar.
Tak terasa waktu bergerak menuju tengah malam, Shohibu Baity menjadi penutup sinau bareng malam ini. Dilantunkan dengan suara merdu dari hati ke hati tanpa ada paksaan dan sekaligus pembacaan doa penutup oleh Gus Muis. Acara berakhir bukan berarti lepas pemahaman, tetapi menjadi refleksi bagi diri sendiri sebelum mengambil keputusan.







