Saya, seorang jamaah sederhana dari Simpul Maiyah Tembang Pepadhang Kendal Jawa Tengah, ingin berbagi rasa syukur dan renungan atas momen istimewa yang kami alami pada 20 Desember 2025 kemarin. Kedatangan Mas Sabrang dalam acara Dialog Kebangsaan Tokoh Lintas Agama di Halaman Gedung MWC NU Sukorejo telah meninggalkan cahaya terang di ruang batin kita.
Bagi kami di Tembang Pepadhang yang namanya bermakna “tembang yang menerangi” kehadiran Mas Sabrang terasa seperti rahmat yang diturunkan. Beliau bukan hanya musisi atau vokalis Letto, melainkan salah satu vitamin bagi penggiat dan jamaah Maiyah, penerus semangat Mbah Nun yang mengajak kita menyelami kedalaman hati melalui tembang dan dialog. Kedatangannya membawa rasa “pulang” ke lingkaran Maiyah yang penuh kerinduan kepada Allah.
Malam itu, sebelum acara dimulai, langit Kendal diguyur hujan deras sesuai prakiraan cuaca untuk hampir seluruh Jawa Tengah. Banyak jamaah yang datang lebih awal basah kuyup, namun tak seorang pun mundur. Hujan itu bagai air mata rindu langit yang membersihkan dan menguji istiqomah kita. Alhamdulillah, tepat saat acara dimulai pukul 19.30 WIB, hujan berangsur reda, seolah alam turut khidmat menyaksikan.
Ini mengingatkan ajaran Maiyah: segala sesuatu di alam adalah ayat yang mengajarkan sabar dan syukur. Yang paling menyentuh adalah saat Mas Sabrang melantunkan “Ruang Rindu”, “Fatwa Hati”, dan “Sandaran Hati”. Jamaah dari berbagai latar belakang agama dan suku bernyanyi bersama, suara menyatu dalam doa yang berwujud melodi. Saat itu, kita seolah tenggelam dalam romansa batin Maiyah. Tempat ego larut, perbedaan hilang, hanya tersisa rindu kepada Yang Maha Esa. Tembang-tembang itu benar-benar menjadi pepadhang yang menyembuhkan jiwa lelah di tengah hiruk-pikuk dunia.

Namun, di balik kehangatan itu, tersisa satu kerinduan yang belum terpenuhi: kami belum berkesempatan bertegur sapa langsung dengan Mas Sabrang. Sekadar salam-salaman atau mendengar dawuh beliau dari dekat. Jadwal beliau yang padat membuatnya harus segera berangkat usai acara. Kerinduan yang tertunda ini justru menjadi pelajaran indah: rindu yang tak terpenuhi semakin membakar api Maiyah. Ia mengingatkan bahwa perjalanan spiritual kita panjang, dan pertemuan sejati adalah di hadirat Allah. Mungkin Gusti Allah sengaja menunda agar kita lebih menghargai setiap momen dan tetap istiqamah tanpa bergantung pada sosok tertentu.
Akhirnya, momen ini mengajarkan bahwa Maiyah adalah proses tenggelam dalam rindu, cahaya yang datang meski di tengah hujan deras. Terima kasih kepada Mas Sabrang atas pepadhang yang dibawa ke Kendal. Semoga kita semua terus menjadi tembang yang menerangi bagi sesama.
Kendal, 21 Desember 2025





