Penglihatan poros mata beberapa jamaah terlihat sinis, mungkin memendam rasa kecewa, atau bahkan marah padanya. Ada juga yang memandangnya dengan keseriusan, ia menegakan punggungnya, siap berkuda-kuda, dengan membuka karung pikiranya, dan memutar-mutar simpul tali jeratan untuk menangkap ilmu dan pengetahuan selanjutnya. Namun ada juga yang mengantuk sambil menghisap sebatang rokoknya yang hampir habis, dengan tetap mendengarkan pernyataan selanjutnya, namun siap menaburkan tabungan ilmunya, yang ia peroleh dari universitas Maiyah yang tak terbatas semesternya dan tanpa wisuda di ujung perkuliahannya.
Dalam rutinan sinau bareng di simpul Maiyah Cirrebes (Cirebon-Brebes), tepatnya di minggu akhir bulan September 2025. Salah satu penggiat simpul mengatakan; “Jangan khawatir dengan Maiyah, khawatirkanlah dirimu sendiri”.
Jamaah yang baru pertama kali Maiyahan akan menganggap pernyataan tersebut sebagai bentuk kalimat individualis, tidak punya komitmen, dan tidak punya loyalitas. Sikap yang seperti itu tidak bisa langsung disalahkan, itu adalah akibat dari sebab pola pikirmasyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan struktur padatan, fungsi dan arah tujuan yang terbatas, serta terpatok dengan peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri. Menyerahkan urusan pada Allah “Hasbunallah” akan dianggap sebagai bukan solusi.
Kalau Anda bekerja di sebuah organisasi atau perusahaan, lantas kemudian Anda berkata; “yang lebih utama adalah diri kita, jangan khawatirkan perusahaan”. Maka bersiaplah Anda menerima teguran, atau bahkan pemecatan, karena dianggap tidak sesuai dengan visi misi dan tidak menomorsatukan perusahaan. Perusahaan tidak mempedulikan kehidupan Anda di luar jam kerja, apalagi lika-liku permasalahan keluarga Anda.
Jangankan perusahaan, jika ada seorang warga negara yang mencuri beberapa kilogram beras hanya untuk sebatas memenuhi kebutuhan perut anak-anaknya yang tiga hari belum makan, maka ia akan tetap terserat dan terkena aturan hukum baku yang belaku. Aturan hukum tidak akan melihat sebab kenapa pencuri itu mencuri. Sedangkan pemerintahnya tidak terkena hukuman, padahal warga negaranya kelaparan, tidak terpenuhi kebutuhan perutnya sampai-sampai melakukan pencurian.
Lantas, haruskah Anda menomorsatukan Maiyah? Apakah Anda punya kontrak kerja di Maiyah? Hukum apa yang belaku di Maiyah? dan apa visi misi Maiyah?
Maiyah adalah panggung bebas tanpa batas, setiap individu boleh berpendapat dengan kapasitasnya masing-masing. Belajar bareng dengan multi arah, menguraikan dan memetakan kembali yang semestinya diperbaiki, menemukan sangkan paran inti, eling lan waspodo dalam melangkahkan diri.
Internalisasi diri dengan nilai-nilai Maiyah adalah proses inti Maiyahaan itu sendiri yang berskala panjang. Arahnya merohanikan diri, yang akan memancarkan cahaya disetiap lini. Itulah Jalan sunyi. Sebab Maiyah tidak fokus pada mimpi, apalagi ambisi. Bahkan terhadap Maiyah itu sendiri.
“Jangan khawatir dengan maiyah, khawatirkanlah dirimu sendiri”. Kalimat tersebut merupakan respons dari beberapa jamaah yang sangat merindukan dan mengharapkan kesehatan Mbah Nun untuk kembali menemani anak cucunya bermaiyahan. Mereka merasakan dan mengkhawatirkan pasang surutnya jamaah Maiyah, semenjak Mbah Nun menempuh jalan sunyinya. Jalan di ruang kemesraan, bersama Allah dan Rasulullah kekasih-Nya.
Maiyah bukan milik Mbah Nun. Beliau bukan rektor Maiyah, bukan ketua umum Maiyah, apalagi presiden Maiyah. Beliau “hanya” Mbah, yang sangat mencintai kita semua.
Di maiyah, puncak peneguhan perjuangan perjalanannya adalah selalu menghadirkan dan menomorsatukan Allah dan Rasulullah. Bacalah https://www.caknun.com/2025/majelis-ilmu-muhammad-ainun-nadjib/ .
Dalam bermaiyahan, semuanya berproses untuk berdaulat meneguhkan diri dalam memperbaiki keadaan agar sesuai dengan iradah Allah dan tuntunan dari Rasulullah. Dimulai dari individu jamaah sendiri, keluarga, masyarakat, negara dan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Semuanya dipelajari, dirumuskan kembali dalam proses Maiyahan, dan diperjuangkan dalam mengarungi kehidupan sampai puncak arah kesejatian.
Perjuangan internalisasi nilai-nilai maiyah dalam kehidupan, setiap jamaah memiliki kadarnya masing-masing. Kata Mas Sabrang; “Jangan pernah melawan rumusan Allah”. Jangan paksa kehidupan harus sesuai dengan keinginan kita. Kehidupan yang kita jalani adalah setoran perjuangan, bukti kesungguhan dalam proses cinta kepada Allah dan Rasulullah Kekasih-Nya.





