Tadabbur Hari ini (46)
MOSOK ALLAH OMONG-OMONG DENGAN JANIN KITA

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيم
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(Al-Fatihah: 1-7)

Informasi tentang omong-omong Allah dengan Janin kita semua ini tidak mungkin kita baca dan dapatkan dari Kitab Kuning dengan judul apapun dan ditulis oleh Ulama Syaikh Maula siapapun. Juga tidak mungkin kita peroleh dari Newton, Archimedes, Einstein, Dr. Nurcholish Madjid, Habib Quraish Shihab, Gus Mustofa Bisri, bahkan mustahil pula dari Elon Musk atau aplikasi-aplikasi Artificial Intelligence yang seri mutakhir pun. Pun tidak dari pasca-science atau futurologi ilmu pengetahuan abad ke-50 pun.

Informasi itu absolut hanya mungkin berasal dari Sang “Rabbil ’alamin”. Dari Maha Pihak yang kita memulai segala sesuatu dengan meneguhkan “Bismillahirrahmanirrahim”, dengan kesadaran dan kewaspadaan bahwa Ia juga “Maliki yaumiddin”.

Maka kepada sumbernya, kepada pihak yang mengemukakan itu, jangan ditanyakan oleh runutan referensi atau sanadnya, sandaran pikirannya atau apapun saja.

Kita teguhkan ingatan dan kesadaran terus-menerus bahwa informasi tentang dialog Allah dan janin anak-anak Adam tidak bisa diketahui oleh manusia kalau tidak karena Allah sendiri yang memfirmankannya. Kumpulan Universitas dan Sekolah paling canggih dan merasa sudah khatam ilmu dan pengetahuannya di abad ke-100 kelak (kalau belum kiamat), tak akan mampu memiliki metodologi dan peralatan teknologi yang sehebat apapun untuk meneliti segala sesuatu tentang dialog Allah-Janin itu.

Peristiwa dialog antara Janin dengan Allah itu mutlak bersumber segala sesuatunya dari petunjuk atau hidayah Allah. Bahkan para ilmuwan sampai kelak di ujung abad sebelum Kiamat, tidak bisa merumuskan bagaimana sebenarnya kok Janin ditanya dan menjawab. Padahal kita tahunya Janin, karena bayipun belum memiliki perangkat apapun untuk bertanya dan menjawab.

Maka mungkin yang selama ini kita pahami sebagai akal, ilmu, pengetahuan, komunikasi, informasi dan memori, sesungguhnya jauh lebih luas dan multi-dimensional dibanding yang kita rumuskan dan yakini dalam ranah ilmu dan pengetahuan di sekolah paling tinggi pun.

Mungkin memori dan penyimpannya bukan hanya saraf-saraf di dalam kepala, baik yang berperan sebagai “brain” maupun “mind”. Mungkin ada memori qalb, ada memori dhamir, ada memori fuad, ada memori janin, ada memori syu’r, ada memori-memori lain yang Allah menentukannya dan manusia tidak sanggup memahaminya. Bahkan mungkin setiap sel jasad kita memiliki mesin atau sistem memori.

Maka bahkan seluruh Al-Fatihah atau setiap kalimatnya atau setiap kosakatanya, bahkan mungkin setiap hurufnya, mungkin termasuk “tak terhingga” sehingga semua tuturan penafsiran kita, semua narasi tadabbur kita, semua refleksi penangkapan yang kita sangka itu merupakan pengetahuan dan ilmu — ternyata hanya prasangka sebatas pagar keterbatasan kita saja.

Maka kemudian tatkala manusia menjalani hidupnya, lantas mengalami suatu kesulitan yang mendorongnya untuk memohon pertolongan kepada Allah, tapi sampai waktu tertentu ia merasa Allah belum mengabulkannya — mungkin sebaiknya kita berasumsi bahwa yang bersangkutan itu perlu memperkuat kesabarannya serta mencoba berpikir lebih bijaksana.

Allah “sudah” atau “belum” mengabulkan itu bisa berjarak sekian bulan, sekian tahun atau bahkan rentangan jaraknya bisa antara kehidupan dunia dengan akhirat. Belum lagi ada kemungkinan bahwa ia belum mengerti saja qabul dari Allah, misalnya karena alat-alat untuk menelitinya tidak mencukupi.

Atau kembali kepada kesulitan yang dialaminya, bisa saja bermakna rahmat, ujian yang baik, atau memiliki hikmah yang paradoksal dengan pemahamannya yang linier. Atau pengertiannya yang tidak cukup luas dan dialektis bahwa letak fokus rahmat Allah bukanlah di perkara kesulitan yang ia alami. Allah Yang Kekuasaannya Tak Terhingga sehingga disebut Maha, menciptakan kehidupan manusia ini jauh lebih luas dan lebih komplek dibanding batas sangat sempit yang bisa dijangkau oleh akal manusia sendiri.

Dan Allah, terserah Ia mau pakai wasilahatau tidak, mau pakai jarak dan perantara atau tidak, Maha Sanggup melakukannya sekehendak-Nya.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sungguh, engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qasas: 56)

Tidak ada kemungkinan atau pilihan apapun bagi kita selain berharap agar kita termasuk hamba-hamba yang Dia kehendaki. Kalau ternyata kita juga berada di kumpulan ”Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”, itu adalah yang termewah dari semua kemungkinan kemewahan.

Emha Ainun Nadjib
14 Juni 2023.

Lihat juga

Back to top button