Tadabbur Hari ini (41)
‘SEMUA’ TIDAK SAMA DENGAN ‘BERSAMA’

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيم
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(Al-Fatihah: 1-7)

Pada tadabbur sebelum ini ada kalimat “Ummat manusia abad ke-21 ini terlalu “kemproh” semesta jiwanya untuk pantas mengucapkan pernyataan itu”. Mohon jangan tanggapi secara linier. Itu kita ucapkan justru berangkat dari pengharapan yang sangat besar dan maksimal kepada manusia yang oleh Allah diproduksi dengan kualitas melebihi makhluk-makhluk lain sehingga disebut “ahsanu taqwim”. Allah pula yang sejak semula menyiapkan segala sesuatunya dalam menciptakan manusia itu untuk memiliki segala yang manusia perlukan dalam menjalankan jabatannya sebagai “Khalifah di Bumi”.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah: 30).

Ketika firman itu sampai di bumi dititipkan kemudian disampaikan oleh Rasulullah Muhammad Saw., ummat manusia sudah terlanjur tercerai-berai menjadi banyak golongan. Keragaman itu bersumber pada tidak menyatunya informasi secara waktu dan ruang untuk sampai ke mereka. Maka salah satu amanah kepada Kanjeng Nabi adalah menyembuhkan ummat manusia dari “penyakit golongan” serta mempersatukan kembali ummat manusia menjadi “satu ummat”.

Lihat juga

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ وَمَا ٱخۡتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۖ فَهَدَى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ ٱلۡحَقِّ بِإِذۡنِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. Maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)

Terjadinya golongan-golongan di antara ummat manusia juga tidak disebabkan oleh informasi keagamaan dari langit melalui sangat banyak tokoh-tokoh di berbagai wilayah di bumi, melainkan menurut Allah karena “dengki di antara mereka sendiri”. Ummat manusia juga memecah diri mereka menjadi banyak firqah berdasarkan banyak faktor yang lain: pandangan budaya, perbedaan cara dan level berpikir, kepentingan kekuasaan dlsb.

Yang bersumber dari “millah Ibrahim” saja menjadi banyak variabel antropologis dan sosiologis. Masyarakatnya Nabi Musa As. menjadi golongan tersendiri dibanding ummatnya Nabi Isa As. – apapun sebabnya. Kemudian lahir “khatamul anbiya`”, Muhammad Saw., benar-benar mempamungkasi pemetaan golongan-golongan itu. Di dalam kelompok Kaum Muslimin saja terbelah-belah dengan semakin banyak kepingan-kepingan atas dasar berbagai pandangan dan kepentingan.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali-Imran: 103)

Wa’tashimu” kepada Allah mungkin sudah lumayan selama ini. Tapi “jami’an”-nya kayaknya belum pernah tercapai. Kita hidup dengan relatif berpegangan pada tali Allah, tetapi belum bersama-sama. Memang berpegangan, tetapi sendiri-sendiri, masing-masing, atau dengan diri dan golongannya masing-masing. Di dalam ayat itu “jami’an” diterjemahkan menjadi “semua”. Tetapi itu tidak berarti “bersama-sama”. Para Mufassir dan Ulama kita perlukan untuk memperjelas perbedaan maknawi berserta pengejawantahan realitasnya antara “semua” dengan “bersama”.

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ
مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ
وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali-Imran: 105)

Ending ayat itu lho: “Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. Bagi kita itu sangat mengerikan. Entah bagi teman-teman kita atau bagi mayoritas Kaum Muslimin, termasuk pada tokohnya yang memimpin golongan-golongan.

Itulah sebabnya Maiyah selama ini sangat sadar dan berjuang untuk jangan sampai menjadi “padatan” sosial, menjadi “firqah”, menjadi “madzhab”, menjadi aliran yang membedakan diri dengan aliran dan golongan-golongan lain yang sudah ada. Memang sangat banyak perbedaan antara Maiyah dengan semua yang lain dalam rentang 15 abad hidupnya Agama Islam. Pola pikirnya beda, penemuan tadabburnya berbeda, perolehan tafsirnya berbeda, sikapnya terhadap manusia, masyarakat, Negara dan globalisasi berbeda. Tapi para pelaku Maiyah selalu berlatih meletakkan diri sebagai “kita semua bersama”. Aksentuasinya pada “bersama”, karena bisa saja kita ini “semua tapi sendiri-sendiri atau masing-masing”.

Maiyah setengah mati mengupayakan diri untuk setia universal, mencari koordinat hidup yang bukan “kita dan mereka”, tidak sibuk membeda-bedakan diri dengan lainnya. Apalagi Rasulullah Muhammad Saw. didatangkan oleh Allah untuk mempersatukan ummat manusia. Cobalah kita pelajari Piagam Madinah dan kebijaksanaan beliau selama berlangsung Peradaban Madinah.

Meskipun bagi Maiyah dan kita semua hal itu amatlah sulit dan dalam banyak hal hampir mustahil. Dan itu membuat Maiyah tidak bisa dipahami atau tidak bisa diterima oleh masyarakat dan Negara yang terlanjur melihat segala sesuatu secara padatan atau materiil.

Itu membuat Maiyah tidak laku, tidak viral, tidak kondusif untuk ikut berkuasa.

Tapi kita ini berjuang memang tidak dengan idaman akan menaklukkan dan membangun dunia. Tidak untuk menguasai Negara, bahkan siap tidak ikut rombongan penguasa. Dalam instruksi “inni Ja’ilun fil ardli khalifah” dari Allah, ujung tujuan dan pencapaian kita bukan “menjadi khalifah di bumi”, melainkan bahwa kita tidak berhenti berlaku sebagai “maj’ul” yang diamanahi dan diperintahkan oleh Sang “Ja’il”.

Emha Ainun Nadjib
9 Juni 2023.

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button