SUASANA ACARA SASTRAEMHA EDISI PERDANA

Bertempat di Kafe SyiniKopi (Sabtu, 18 Maret 2023), acara perdana SastraEmha berlangsung asik dan meriah. Teman-teman pecinta sastra hadir dan menikmati acara dalam suasana Kafe SyiniKopi. Santai. Enjoy. Sebagian duduk lesehan, sebagian duduk di kursi. Duet Host Doni dan Patub membawakan acara dengan seger dan ciamik. Acara mengalir enak diikuti.

Pada edisi perdana ini SastraEmha menghadirkan Puisi-puisi Mbah Nun pada 1970-an, masa ketika Mbah Nun masih remaja belia usia belasan tahun tetapi sudah menghasilkan puisi-puisi yang khas dan telah dimuat dalam media massa. Hal yang, seperti dikatakan Pak Simon Hate dalam pidato pembukaan, merupakan pencapaian kapasitas yang jarang dicapai penyair-penyair lain. 

Malam itu sejumlah puisi Mbah Nun dibacakan oleh Pak Joko Kamto, Mas Imam Fatawi, Doni, dan pembaca spesial yaitu Mas Edric Chandra dari Wismilak yang datang khusus dari Jakarta untuk mengikuti SastraEmha. Tak hanya beliau-beliau, teman-teman hadirin kebanyakan generasi kekinian juga diberi kesempatan tampil membacakan Puisi-puisi 1970-an Mbah Nun. Penampilan mereka membuat acara makin gayeng dan memiliki makna khusus, terutama ketika mereka menyadari bahwa ketika Puisi-puisi itu ditulis bukan saja saat mereka belum lahir, tetapi baru lahir 25-30 tahun kemudian. Menarik bahwa salah satu dari mereka merasakan membaca puisi Mbah Nun tahun 1970-an ini bagaikan time traveller.

Di antara puisi yang dibaca malam itu adalah Kelembutan Mati, Syair Berhala, Sajak Petualang, Sajak Sederhana Untuk-Mu, Sajak Jatuh Cinta, Membayang Beribu Warna di Angkasa, Kubakar Cintaku, Takut Pada Matamu, dan Malioboro.

Semua pembaca puisi malam itu tampil menarik, kuat, dalam gaya masing-masing, dan mampu mengkomunikasikan rasa yang dikandung Puisi-puisi Mbah Nun. Terlebih Pak Joko Kamto. Mbah Nun yang duduk di kursi ditemani Mas Edric, Pak Nevi, dan beberapa yang lain, menyimak setiap pembacaan dengan antusias dan sangat senang. Akhirnya, seperti dikatakan Pak Toto Rahardjo, Puisi-puisi 1970-an Mbah Nun ini tidak cukup dinikmati malam ini saja. Edisi bulan depan masih tetap akan pada Puisi-puisi 1970-an ini. Malam perdana ini barulah tahap awal dari proses publik SastraEmha khususnya generasi Z ini akan menyelami lebih mendalam Puisi-puisi 1970-an Mbah Nun. 

Dalam kesempatan dialog malam itu, Mbah Nun mengisahkan perjalanan dalam berkarya sastra, memahami sastra, dan mengalami momentum-momentum di masa kecil yang beliau rasakan sebagai sangat puitis. Tentang puisi dan kelembutan sastra yang telah beliau hayati dan jalani sejak belia, menurut beliau itulah salah satu hal yang menjadikan beliau bisa melihat agama dan banyak hal lain dalam kehidupan menjadi lebih cling.

Silakan teman-teman yang belum berkesempatan hadir malam itu bisa menyimak tayangan acara SastraEmha edisi perdana di: https://www.youtube.com/live/Ld1G4FtU-ZU

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button