SANG PENGASUH

Awal tahun 2025 masih dihiasi hujan. Di tengah rintik yang jatuh di bumi, kita kembali bertemu dalam majelis ilmu Maiyah Suluk Surakartan Surakarta edisi ke-90. Edisi kali ini mengusung tema “Yoni”, yang dalam mukadimah dijelaskan sebagai lambang feminisme, simbol pengasuhan, perpanjangan dari bentuk cinta dan kasih sayang.

Pukul 21.00 WIB, Alan, selaku moderator, menyapa jamaah dengan salam sebagai tanda dimulainya diskusi malam itu. Ia sedikit menyinggung mukadimah untuk memantik percakapan, kemudian mempersilakan Pak Munir melengkapi lambaran penjelasan yang telah disampaikan.

Dalam keseharian, kita tidak bisa lepas dari kepengasuhan. Banyak bentuknya, seperti orang tua kepada anak, bos dengan karyawan, guru dengan murid, atau bahkan sebaliknya. Sekilas, ini terlihat linier. Namun, jika dicermati lebih dalam, pola kepengasuhan justru luwes dan luas, melintasi batas hierarki dan hubungan.

Alan kemudian menawarkan jamaah untuk merespons. Tak butuh waktu lama, seorang jamaah bernama Andi angkat bicara. Ia mengutarakan keresahan di tempat kerja, di mana ia sering mendapatkan jobdesk di luar tanggung jawabnya. Pak Munir menanggapi dengan sudut pandang yang lebih ringan, tetapi luwes, “Coba kita ubah sedikit cara pandang. Anggaplah beban pekerjaan di luar jobdesk itu sebagai wahana belajar gratis.”

Lihat juga

Jawaban itu membuka perspektif baru bagi Andi. Kemudian Tegar ikut menimpali. Ia bercerita tentang pengalaman memperbaiki mesin di tempat kerjanya, sesuatu yang awalnya bukan tanggung jawabnya. Namun, setelah mencoba, ia berhasil, dan kini rekan-rekannya mengandalkannya saat ada mesin yang bermasalah.

Diskusi terus mengalir. Thariq, yang sedari tadi menyimak, tak ingin hanya terdiam. Ia bercerita tentang pengalaman uniknya sebagai tukang cukur. Suatu hari, seorang pelanggan meminta model rambut ala Korea dan mengajaknya berfoto untuk konten Instagram. Namun, setelah sesi foto, pelanggan itu meminta Thariq mencukur habis rambutnya. “Jengkel sih, karena harus kerja dua kali, tapi ya sudah, aku turuti saja.” Pak Munir menambahkan, “Mengasuh pelanggan bukan hanya soal mencukur, tapi juga bagaimana bentuk pelayanan yang baik, seperti mengelola tata ruang, dekorasi, bahkan wangi ruangan. Semua itu bagian dari kepengasuhan agar mereka merasa nyaman.”

Malam semakin larut, dingin mulai merayap. Alan mengajak Mas Didik berbagi cerita. “Pernah suatu acara, pas saya pegang mikrofon, ada anak kecil tantrum ingin meminjamnya, awalnya saya biarkan saja” ujarnya. “Akhirnya saya berikan, dan tahu apa yang terjadi? Dia hanya bilang ‘haaa’ kemudian pergi begitu saja.”

Tawa pecah. Dari kejadian itu, Mas Didik menyadari bahwa kepengasuhan terhadap anak-anak tidak selalu tentang memberi nasihat panjang lebar, tetapi juga tentang menemani, menjawab pertanyaan mereka, dan merespons ketertarikan mereka terhadap sesuatu.

Cerita-cerita yang bertaburan malam itu menjadi kehangatan tersendiri, mempererat kemesraan dan kebersamaan. Hujan masih turun rintik-rintik, seolah menjadi saksi limpahan ilmu yang mengalir di Suluk Surakartan. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 00.39. Alan menutup pertemuan dan bersama jamaah mengakhiri malam dengan syukur dan melafal hamdalah bersama.

(Redaksi Suluk Surakartan)

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button