Background Ambience
Refleksi Akhir September
Kolom Maiyah

Refleksi Akhir September

Ian Leonard Betts
Ian Leonard Betts

Versi Bahasa Inggris

Saya percaya kepada Allah. Saya menemukan-Nya di sini, di Indonesia.

Itu bukanlah sebuah pewahyuan tunggal atau satu momen tertentu, melainkan sebuah proses yang jauh lebih panjang, ketika wawasan dan pemahaman saya perlahan berkembang. Saya belajar bahwa Allah tidak jauh; Dia berada di mana kita berada, di mana pun itu. Ketika kita berada di Kenduri Cinta, Dia ada di sana. Dia juga bersama kita di rumah, di tempat kerja, dan ketika kita sedang bepergian.

Saya belajar tentang kedekatan Allah dari Al-Qur’an, tetapi saya belajar tentang berjalan bersama Allah dari Cak Nun.

Bekerja bersama Cak Nun selalu terasa seperti sebuah perjalanan ziarah bagi saya. Itulah sebabnya buku Jalan Sunyi Emha pada awalnya akan diberi judul The Silent Pilgrimage. Tidak lama setelah kami bertemu, dengan agak naif saya mengatakan kepada Cak Nun betapa beruntungnya kami bisa bertemu. Jawabannya sedikit tajam, tetapi sangat mendidik. Ia mengatakan bahwa kami sebenarnya tidak sekadar bertemu. Kami telah dipertemukan, dari jalan kami masing-masing, untuk suatu tujuan. Allah mempertemukan siapa yang Dia kehendaki, kata Cak Nun.

Memahami dan memenuhi tujuan itu telah menjadi bagian dari perjalanan saya sejak saat itu.

Menerima Islam lebih dari tiga puluh tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang mudah atau otomatis. Pada awalnya, saya berpikir bahwa saya bisa memilih bagian-bagian tertentu yang sesuai dengan saya. Tetapi saya belajar dari Nurcholish Madjid—Cak Nur—di Paramadina bahwa Islam bukanlah prasmanan tempat kita mengambil hanya apa yang kita sukai. Islam adalah satu set menu. Kita harus berhadapan dengan keseluruhannya.

Saya menerima itu, meskipun memahaminya adalah persoalan lain. Saya mencoba bergulat dengan seluruh unsur dan komponennya. Dari situlah kemudian muncul gagasan saya tentang Islam sebagai sebuah prisma: cahaya masuk sebagai satu kesatuan, tetapi kemudian dibiaskan ke dalam begitu banyak warna dan arah. Gagasan itu pernah saya uraikan lebih jauh dalam tulisan sebelumnya di CakNun.com, “Prisma Kebenaran: Membaca Pelangi Nilai di Lingkaran Maiyah”.

Banyak dari esensi dan dasar awal pemahaman saya dibentuk oleh Cak Nur di Paramadina. Tetapi semuanya kemudian menjadi lebih matang dan berkembang selama periode yang jauh lebih panjang bersama Cak Nun.

Dan saya belajar bahwa Islam adalah sebuah perjalanan—sebuah perjalanan tanpa harapan bahwa suatu hari saya akan sampai pada sebuah tujuan akhir.

Bekerja bersama Cak Nun mengajarkan saya untuk menghargai “aliran” kehidupan kita: keputusan-keputusan yang kita ambil, hal-hal yang terjadi pada diri kita, dan apa yang kita lakukan yang kemudian memengaruhi orang lain. Hal itu membuat saya merenungkan kehidupan Nabi Muhammad (saw.), dan bagaimana peristiwa-peristiwa penting seperti Isra Mi’raj dan Hijrah membentuk pengalaman kaum Muslim pertama dan terus membentuk Islam sejak saat itu hingga sekarang.

Memahami peristiwa-peristiwa tersebut dan maknanya juga dapat membantu kita mengenali, membingkai, dan belajar dari peristiwa-peristiwa yang membentuk dan menentukan kehidupan kita sendiri.

Dari Cak Nun saya belajar tentang asbāb al-nuzūl dan hubungan antara teks dan konteks: menghargai dan menghormati keduanya, serta memahami keadaan yang melatarbelakangi turunnya wahyu-wahyu dalam Al-Qur’an.

Bagi saya, asbāb al-nuzūl bekerja seperti sebuah kunci untuk membuka peti harta karun.

Teks dan konteks saling berkaitan, sebagaimana kehidupan Nabi (saw.) dan wahyu-wahyu Al-Qur’an saling berkaitan. Membaca Al-Qur’an secara kronologis berdampingan dengan biografi kehidupan Nabi memberikan kepada kita cara lain untuk melihat perjalanan beliau: wahyu dan pengalaman hidup yang berlangsung berdampingan.

Saya sering memikirkan karya-karya dan tulisan-tulisan Cak Nun. Hampir setiap hari ada saja yang kembali hadir dalam pikiran saya—sebuah buku, puisi, gagasan, ungkapan, atau referensi lainnya.

Setiap bulan di Kenduri Cinta, saya selalu mampir ke lapak buku Mas Martin. Entah bagaimana, ia selalu berhasil menemukan sebuah buku Cak Nun yang belum saya miliki, meskipun setiap kali saya datang saya selalu cukup yakin bahwa saya sudah memiliki semuanya. Kunjungilah lapaknya lain kali Anda datang ke Kenduri Cinta.

Ada satu makna lain dari kata ayat yang semakin saya pahami melalui karya-karya Cak Nun: sebuah tanda.

Secara harfiah—bukan sebagai gelar keagamaan—ayatullah berarti tanda dari Allah.

Dan tanda-tanda Allah ada di sekeliling kita apabila kita belajar untuk melihatnya. Tanda-tanda itu ada di dunia, pada orang-orang lain, dan dalam berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan hidup kita. Saya juga menemukannya dalam karya-karya dan tulisan-tulisan Cak Nun.

Dan mungkin tanda-tanda itu juga ada dalam karya Anda.

Maka bacalah.

Dan menulislah.


Late September Reflections

I believe in God. I found Him here in Indonesia.

It wasn’t a single revelation as such, but a much longer process of expanding insight and discovery. I learned that God is not distant; He is where we are, wherever that may be. When we are at Kenduri Cinta, that is where He is. He is at home with us too, and at work, and when we are travelling.

I learned about the nearness of God from the Holy Quran, but I learned about walking with God from Cak Nun.

Working with Cak Nun always felt like a pilgrimage to me, which is why the book Jalan Sunyi Emha was initially going to be called The Silent Pilgrimage. Soon after we met, I naively told Cak Nun how lucky it was that we had met. He responded a little sharply, but instructively, saying that we hadn’t simply met. We had been brought together, from separate paths, for a purpose. God brings together whom He wills, Cak Nun said.

Understanding and fulfilling that purpose has been part of my journey ever since.

Accepting Islam more than thirty years ago wasn’t easy or automatic. Initially, I thought I could pick and choose from its components. But I learned from Nurcholish Madjid—Cak Nur—at Paramadina that Islam is not a buffet from which we simply select the things we like. It is a set menu. We have to engage with the whole of it.

I accepted that, although understanding it was another matter. I have tried to work with all its elements and components. That eventually contributed to my idea of Islam as a prism: light entering as one, but refracted into many shades and directions. I explored that idea more fully in an earlier piece for CakNun.com, “Prisma Kebenaran: Membaca Pelangi Nilai di Lingkaran Maiyah”.

Much of the early essence and core of what I learned was framed by Cak Nur at Paramadina. But it matured and grew over a much longer period with Cak Nun.

And I learned that Islam was a journey—one with no expectation that I would somehow arrive at a final destination.

Working with Cak Nun taught me to appreciate the “flow” of our lives: the decisions we make, the things that happen to us, and the things we do that influence other people. That made me reflect on the life of the Prophet Muhammad (pbuh), and on how milestone events such as Isra Mi’raj and the Hijrah shaped the experience of the first Muslims and have continued to shape Islam ever since.

Understanding those events and their significance can also help us recognise, frame and learn from the events that define and shape our own lives.

From Cak Nun I learned about asbāb al-nuzūl and the relationship between text and context: appreciating and honouring both, and exploring the circumstances surrounding the revelations of the Holy Quran.

For me, asbāb al-nuzūl worked like a key to a treasure box.

Text and context belong together, just as the life of the Prophet (pbuh) and the revelations of the Quran belong together. Reading the Quran chronologically alongside a biography of the Prophet gives us another way of seeing his path: revelation and lived experience unfolding alongside one another.

I often think about the works and writings of Cak Nun. They come back to me almost every day—a book, a poem, an idea, a phrase or some other reference.

At Kenduri Cinta each month, I always visit Mas Martin’s book stall. Somehow, he always manages to find a Cak Nun book that I don’t yet have, even though each time I am quite certain that I have them all. Visit his stall next time you are at Kenduri Cinta.

There is another meaning of ayat that Cak Nun’s work has helped me appreciate: a sign.

An ayatullah, taken literally rather than as a clerical title, is a sign of God.

And signs of God are all around us if we learn to look for them. They are in the world, in other people, in the events through which our lives unfold. I find them in Cak Nun’s works and writings too.

And perhaps they are in yours.

So read.

And write.

Bagikan:
Ian Leonard Betts

Ian Leonard Betts

Ian Leonard Betts, lahir di London April 1964. Lulusan Exeter University, Master International Studies, 2003. 1994 belajar Pokok-Pokok Al Qur’an dan Filsafat Islam di Institut Paramadina. Author of Jalan Sunyi Emha.
HOME