PASURYAN MBAH NUN UNTUK ANAK CUCUNYA

Sabtu (25/05/24), selepas ashar para sedulur Lingkar Maiyah Pasuruan bersiap untuk menghelat acara yang bertajuk: Kado Untuk Mbah Nun – Mengitari Sastraraya dalam Puisi, Doa, dan Kerinduan. Acara yang direncanakan berlokasi di sudut timur laut alon-alon Kota Pasuruan ini dikoordinasikan meliputi beberapa titik.

Dari Prigen, para personel Musik Sholawat Padhang Howo berkumpul dan mempersiapkan 𝘴𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘴𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮 serta alat musik yang diperlukan. Tiga armada transportasi disiapkan dari Pandaan dan Beji untuk mengangkutnya. Sedangkan dari Kejayan, sedulur yang mengambil peran sebagai penyedia konsumsi juga telah siap.

Seiring dengan tunggang gunung, panitia sampai dan berkumpul di lokasi acara, panggung Tourism Information Center (TIC) Kota Pasurun. Tim bergegas menurunkan 𝘴𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘴𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮, alat musik, dan perlengkapan pendukung dan mulai 𝘴𝘦𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 panggung.

Acara ini adalah wujud rasa syukur, kado, sekaligus doa untuk memperingati hari kelahiran Mbah Nun. Seluruh elemen Maiyah di beberapa wilayah di Kabupaten dan Kota Pasuruan urun berbagi peran untuk mewujudkannya. Koordinasi dilakukan melalui beberapa pertemuan langsung dan komunikasi jarak jauh sehingga kendala jarak yang saling berjauhan dapat teratasi. Intensitas komunikasi disertai rasa saling memiliki dan semangat tinggi untuk bersedekah melalui 𝘧𝘢𝘥𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 masing-masing menjadi kunci kekompakan para sedulur Maiyah yang tergabung dalam Paseduluran Maiyah Pasuruan.

Tak hanya elemen Maiyah, beberapa tokoh dan komunitas di Kota Pasuruan pun ikut ambil bagian dalam perhelatan ini. Para seniman dan musisi, jurnalis, dan sastrawan pesantren ajur ajer dalam menyemarakkan keberlangsungan acara.

Setelah segala persiapan dirampungkan, selepas isya’, para personel Padhang Howo menyapa audiens dengan lantunan sholawat “Mughrom” dan disusul dengan dua nomor sholawat lainnya. Mas Ari yang bertugas sebagai pembawa acara membuka acara, menyapa para jamaah dan meminta Mbak Marhamah untuk menemani menjadi MC. 

Setelah sedikit pengantar dari MC, acara resmi dimulai. Ditandai dengan nomor Pambuko oleh Padhang Howo, jamaah fokus mengajangi momentum kebersamaan. Satu per satu dari para penampil menyedekahkan 𝘧𝘢𝘥𝘩𝘪𝘭𝘢𝘩 masing-masing; diawali dengan puisi “Kesaksian Orang Biasa” yang dibawakan dengan menyala oleh mas Andi dari Beji. Disusul oleh Mas Eko yang tak kalah membara dari Kejayan, yang di sela puisi tak lupa memunajat kepada Allah sambil menyebut nama Mbah Nun. Melanjutkan suasana sufistik puisi dari Mas Eko, grup musik 432 Project membawa seluruh jamaah pada suasana transendental. Tembang Bangbang Wetan dilantunkan dengan bening dan penuh penjiwaan. Kemudian disambung dengan tembang Sugih tanpo Bondo yang menyelimuti TIC dalam nuansa kesyahduan yang dalam. Setelah beberapa persembahan yang begitu apik, sesi tegur sapa dan saling memberi kesan dan pesan tentang Mbah Nun dan Maiyah berlangsung begitu hangat.

Sapaan pertama dari Mas Upik, penyandang disabilitas netra yang aktif menyuarakan kesetaraan bagi sesama. Kemudian Pak Rifa’i, sebagai sosok generasi awal maiyah turut membagikan pengalamannya. Dilanjutkan kesan oleh Mas Ubaidillah yang mengisahkan salah satu nilai yang terserap dari Mbah Nun, sebuah kisah ditindihnya Bilal bin Rabbah dengan batu oleh Umayyah bin Khalaf sebagai analogi peran pilihan manusia: sebagai Bilal, sebagai Abu Bakar yang menebus Bilal, sebagai Umayyah yang menindas atau sebagai batu yang menindih. Dilanjutkan dengan Pak Doni yang dalam tugasnya berkesempatan berinteraksi dengan Mbah Nun, juga mas Fauzi sebagai penggawa Simpul Maiyah Damar Kedhaton dari Gresik yang membagikan beberapa 𝘪𝘯𝘴𝘪𝘨𝘩𝘵 dan dinamika mimpi 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘳-𝘥𝘶𝘭𝘶𝘳 DK menjelang 71 tahun kelahiran Mbah Nun.

Beranjak dari sesi kesan dan pesan,  Gus Ishom membawakan puisi “Belajar Tidak” dengan cara yang memukau. Bergulir, berikutnya persembahan teatrikal dari Mas Yudha dan para musisi senior Kota Pasuruan yang tampil dengan keunikannya, satire dan menggelitik. Berlanjut, musik puisi dari mas Kun berkolaborasi dengan 432 Project juga penampilan Mbah Gatot yang mengalunkan lirik tentang Kebenaran.

Kemudian sampai pada sesi utama, diskusi sastra bersama Gus Haidar yang juga menyumbangkan puisi yang beliau tulis sendiri dengan judul “Emha Ainun Nadjib”. Dalam diskusi sastra, pemaparan-pemaparan dari Gus Haidar mengenai sastra pesantren membuka dan menambah pengetahuan mengenai kehidupan santri yang lekat dengan sastra. Sesi ini pun dihidupi dengan beberapa tanya jawab dari jamaah.

Keasyikan bersama tidak menjeda waktu, malam beranjak ke tengah dan larut. Malam bersalaman dengan lantunan  “Wakafa” dari Padhang Howo menarik jamaah menuju keheningan. Setelah beberapa lantunan sholawat, Gus Khobir memimpin doa. Acara pungkas dengan pembacaan Tawashshulan, mengantarkan doa-doa untuk Mbah Nun, jamaah maiyah, bangsa Indonesia dan dunia.

Rasa terima kasih tak terkira kami ucapkan kepada seluruh pihak dan elemen yang terlibat dan mendukung acara ini. Dan terkhusus kepada Mbah Nun, terima kasih telah menemani kami dan bangsa Indonesia. 𝘚𝘶𝘨𝘦𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘣𝘢𝘭 𝘸𝘢𝘳𝘴𝘢, Mbah Nun.

(Red/Dhimas/Marhamah/Lingkar Maiyah Sudulur Pasuruan)

Lihat juga

Back to top button