SAMBUNG URIP, SAMBUNG LANGIT

(Reportase Majelis Ilmu Maiyah Lingkar Maiyah Sedulur Pasuruan Edisi Juni 2024)

Minggu malam, 30/06/24, beberapa sedulur Maiyah telah berkumpul di Sanggar Perdikan yang berada di wilayah Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Pandaan. Sanggar Perdikan sendiri adalah sebuah tempat belajar bagi anak-anak, sekaligus laboratorium belajar dalam mengimplementasikan ilmu dan nilai-nilai yang telah dipelajari dari Maiyah. Juga merupakan rumah yang terbuka bagi para sedulur maiyah untuk sekedar singgah, berteduh, atau juga berbagi gagasan.

Tema Maiyahan kali ini adalah “Jalur Langit”. Pembacaan teks tawashshulan dan sholawat Nabi yang dipimpin oleh Mas Andi dan Mas Rizal menjadi pembuka. Setelah larut dalam kekhusyukan wirid dan sholawat, perkenalan dan obrolan santai mengawali suasana akrab malam itu.¬†

Mas Rafi dari Plinggisan Pasuruan berkenalan dan bercerita tentang lika-liku kegiatannya sebagai praktisi “urban farming” yang mengkhususkan sebagai petani organik. Bahasan tentang tani mengingatkan pada majelis Sedekah Maiyah Tani di Lumajang beberapa waktu lalu. Berbagai dinamika seputar pertanian yang dibahas dalam kegiatan tersebut diulas kembali sebagai tambahan bahan bahasan yang serius tapi tetap santai.

Tani erat dengan ternak, bahasan semakin meluas. Mas Dandy yang berkecimpung dalam perikanan tambak di Kalianyar Bangil membagi kisah tentang betapa beratnya menjalankan usaha tambak hari ini. Kualitas air, cuaca yang tak menentu, sampai permainan tengkulak menjadi tantangan yang makin berat.

Dari obrolan dinamika sistem distribusi pertanian dan perikanan, kemudian menyenggol beberapa berita akhir-akhir ini, sahut menyahut  semakin gayeng. Pusat Data Nasional yang diretas, wakil rakyat yang tidak mewakili rakyat, pejabat negara yang tak beretika dan beberapa berita salah urus lainnya. Merespons hal itu, Mas Upik dari Pasuruan kota pun turut mencurahkan uneg-unegnya sebagai golongan disabilitas. Realitas yang terjadi dimana-mana bahkan pada komunitas disabilitas dinamikanya tak kalah berat. Kasus yang terjadi, ketika para penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya atau produk, sistem birokrasi dan dinas-dinas terkait belum mampu memberi dukungan. Janji mendukung masih berupa janji, keluar dari mulut kemudian menguap.

Saat kita memeriksa keadaan dengan jarak yang kita bisa, didapatkan bahwa tata kelola, solusi, dan segala upaya yang kita lakukan dari berbagai lini, baik sebagai individu, masyarakat, hingga level negara seolah terjebak dalam labirin besar yang susah jalan keluarnya. Kondisi parah ini membuat kebingungan massal.

Obrolan “Jalur Langit” malam itu menjadi salah satu opsi dalam menghadapi situasi tersebut. Direspon oleh Mas Dandy yang memberikan pertanyaan yang cukup menggelitik sekaligus filosofis, “Langit yang mana yang dituju?” Dengan analogi alur penerbangan yang carut marut, kesesuaian armada dan stasiun kontrolnya, eksplorasi tentang jalur langit, mekanisme doa, ketersambungan frekuensi, bahasan menuju pada esensi tarekat dan ma’rifat. Juga bagaimana ekspresi Maiyah pada area tersebut.

Mas Ari memberikan sudut pandangnya mengenai “Jalur Langit”. Ia menyampaikan bahwa yang disebut jalur langit itu bukan sekadar doa atau harapan-harapan agar bertemu jalan keluar dari masalah yang bagaikan benang yang saling terikat hingga kusut tak terurai. Jalur langit adalah sebuah ikhtiar kita sebagai individu, untuk menemukan kembali “titah langit” yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Sebuah upaya untuk menemukan kembali ketersambungan kita dengan Sang Maha, dan mencoba kembali kepada jalur yang telah digariskan-Nya. Sadar diri, sadar potensi, sadar posisi menjadi salah satu terjemah jalur langit. Ketika setiap individu mampu menemukan jalur langitnya, masalah-masalah yang saling mem’buhul’ akan terurai sendiri-sendiri. Setiap individu akan menemukan peran sesuai takarannya, sehingga solusi yang keluar dapat menjadi pemecah masalahnya sendiri dan tidak menimbulkan masalah baru bagi di luar dirinya. Ketika semua orang mampu in-line dengan jalur langitnya masing-masing, “wicked problem” diharapkan akan dapat teratasi.

Obrolan terus mengalir hingga tengah malam. Diingatkan waktu, acara dipungkasi dengan doa. Haji Erik dari Prigen memimpin doa penutup. Para sedulur yang esok mesti menunaikan jalur langitnya, satu per satu berpamitan. 

Beberapa sedulur yang masih larut dalam obrolan hangat melanjutkannya hingga menjelng pukul 3 dini hari. Sesuatu yang masih memunculkan kekaguman sekaligus keheranan, forum maiyah adalah forum belajar dimana orang betah duduk berlama-lama, bahkan hingga pagi. Forum yang selalu menjejakkan rindu untuk menunggu bertemu kembali.

(Red/Marhamah/Dhimas/Lingkar Sedulur Maiyah Pasuruan.

Lihat juga

Back to top button