BIJAK KELOLA DIRI BERBEKAL SPIRIT MBAH NUN

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik memasuki edisi ke-89. Kali ini bertepatan dengan momentum bulan kelahiran Mbah Nun, maka dulur Damar Kedhaton sepakat mengusung tema “Spirit 71 Tahun Mbah Nun”.

Majelis Ilmu Telulikuran ini diselenggarakan pada Kamis (30/5/2024), bertempat di Halaman Masjid Jami’ Nurul Jannah, Desa Slempit, Kecamatan Kedamean.

Giliran juz 29 yang didaraz, untuk pembaca dari Malik alias Maiyah Cilik bernama Haikal. Haikal merupakan putra Kaji Bombom. Dalam nderez Qur’an, Haikal juga dibantu oleh Cak Dimas.

Pukul 22.30 WIB, Tawashshulan wirid sholawat mulai dilantunkan. Wak Syuaib memandu sesi ini, dengan dilakukan secara bergantian bersama Cak Fauzi.

Seluruh dulur Damar Kedhaton Gresik tampak begitu nikmat meresapi tiap lafadz demi lafadz yang terdengar.

Perlu diketahui, Masjid Jami’ Nurul Jannah, Desa Slempit, Kecamatan Kedamean telah menjadi saksi bisu bagi Damar Kedhaton Gresik.

Sebab, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton, sudah pernah beberapa kali diadakan di tempat tersebut. Khususnya, ketika wilayah Gresik selatan mendapat jatah gilirannya.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton, yang rutin digelar satu bulan sekali, tempat pelaksanaannya bergiliran. Dulur Damar Kedhaton bersepakat, membagi wilayah Gresik menjadi 4 bagian. Diantaranya yakni, Gresik Utara, Gresik Kota/Tengah, Gresik Barat, dan Gresik Selatan.

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik kali ini terbilang spesial. Sebab, pelaksanaannya juga masih dalam momentum bulan kelahiran Mbah Nun. Mbah Nun lahir tepatnya, pada tanggal 27 Mei.

Dalam sesi pelantunan sholawat mahalul qiyam, diiringi penabuh dari pelajar NU atau IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Meskipun tak sebanyak seperti biasanya yang acap dilakukan berkelompok, dua orang saja yakni Mas Jaka dan Mas Rehan; cukup untuk mengiringi kekhidmatan dulur Damar Kedhaton Gresik mendalami, menghayati, serta merenungi tiap kata yang dilantunkan.

Usai tuntas pelantunan Tawashshulan, wirid, dan sholawatan, para sedulur Damar Kedhaton Gresik dipersilakan oleh tuan rumah wilayah Gresik selatan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Setelahnya, kemudian mengawali sesi diskusi elaborasi tema “Spirit 71 Tahun Mbah Nun”. Diawali dengan pembacaan prolog, yang disampaikan oleh Cak Amin Kemeh.

Dalam prolog, diuraikan beberapa pengalaman dulur Damar Kedhaton terkait persentuhannya dengan Maiyah atau Mbah Nun. Termasuk juga tulisan yang kesaksian dari Mas Helmi, redaktur Caknun.com dan Mymaiyah.id. Selain itu, juga dijelaskan kesaksian Abah Hamim Ahmad, salah satu sahabat Mbah Nun ketika di Eropa.

Tak hanya itu, Gus Luthfi, siapa yang tak kenal Gus Luthfi? Nah, beliau merupakan salah satu pengawal Mbah Nun dengan ciri khas peci Maiyah yang dikenakan.

Kebetulan, Gus Luthfi memiliki sebuah pondok bernama Humanunggal, beralamat di Desa Menunggal, Kecamatan Kedamean, Gresik. Sedikit sejarah berdirinya Pondok Humanunggal, yang merupakan titipan pesan dari Mbah Nun kepada Gus Luthfi.

Beliau menyempatkan diri untuk ikut melingkar bersama dulur Damar Kedhaton Gresik.

Cak Teguh yang bertugas sebagai moderator, mengawali sesi diskusi atau elaborasi tema, dengan melandasi spirit perjuangan Mbah Nun selama ini.

Tak hanya itu, Cak Teguh menambahkan, berkumpulnya dulur Damar Kedhaton Gresik pada malam hari itu, merupakan bagian dari cipratan berkah dari Mbah Nun. Termasuk juga karena energi Maiyah, yang membuat mereka, rela datang jauh-jauh. Ada yang dari Panceng, Sidayu, rela jauh-jauh datang ke Halaman Masjid Jami’ Nurul Jannah Desa Slempit Kecamatan Kedamean.

Sebelum elaborasi tema berlanjut, masih dalam momentum bulan kelahiran Mbah Nun, Cak Fauzi mengajak dulur Damar Kedhaton Gresik yang hadir, untuk menceritakan tentang persentuhannya dengan Maiyah, atau pengalaman personal yang berkaitan dengan Mbah Nun.

Mulai dari tulisan Mbah Nun, buku karya Mbah Nun, YouTube, maupun hadir secara langsung dalam gelaran Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng  (CNKK)

Mengawali elaborasi tema, Pak Ghozali yang merupakan warga Desa Sumurber, Kecamatan Panceng. Dia menjelaskan panjang lebar mengenai awal mula persentuhannya Mbah Nun atau Maiyah.

Ia mengatakan, awal mulanya muncul ketertarikan didapat dari membaca beberapa karya buku Mbah Nun.

“Banyak hal yang saya pelajari, baik dari Maiyah ataupun Mbah Nun. Kalau saya dari membaca karya buku beliau (Mbah Nun-red),” jelasnya.

Lalu, Cak Teguh pun merespon prolog tema yang dibacakan oleh Cak Amin Kemeh. Menurut Cak Teguh, yang dilakukan Mbah Nun selama bertahun-tahun ini ialah, bagaimana menata-kelola manusianya secara substansial. Sehingga, bukan hanya sekadar prosedural semata.

Lalu disahut lagi oleh Cak Fauzi. Cak Fauzi mengutip salah satu pernyataan yang cukup relevan, untuk memantik daya nalar, pengetahuan, dan wawasan. Pernyataan yang dikutip, berasal dari Ben Anderson.

Menurut Ben Anderson, sambung dia, kebangsaan merupakan sebuah komunitas yang imajiner.

“Nah, anak Maiyah, imajinasinya sedang dibangun. Termasuk mental dan pikiran untuk menyelaraskan visi, misi, frekuensi, dan lain sebagainya,” papar Cak Fauzi.

Setelahnya, dilanjutkan oleh Mas Yudi asli Magetan yang kini sedang bekerja di Gresik. Tak hanya itu, Mas Yudi sendiri ternyata, dulu pertama kali ikut berkumpul dalam momentum ngumpulke balung di Situs Giri Kedhaton. Pertemuan tersebut, merupakan saat pertama kalinya Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik dilahirkan.

“Awalnya memang seneng Cak Nun, itu dari YouTube. Terus saya intens ngikutin dari situ. Lalu, awal mula hadir di Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng itu, kalau gak salah di Dukun. Nah, saya tahunya itu sampai membludak, isi ceramahnya juga bagus. Rasa-rasanya cocok, dan logis bagi saya pribadi terutama dapat diterapkan dalam kehidupan saya sehari-hari, hati saya juga rasanya bergetar,” ujar Mas Yudi secara panjang lebar.

Selain itu, Mas Yudi juga mengulas panjang lebar terkait dengan prolog yang dibacakan oleh Cak Amin Kemeh. Dalam prolog, ia menyoroti maksud dan makna dari kata disiplin yang melekat pada sosok diri Mbah Nun, terutama dalam hal waktu.

Selanjutnya, elaborasi tema disampaikan oleh Mas Firrin. Dalam hal ini, Mas Firrin menceritakan awal mula mengenal sosok Mbah Nun dari beberapa karya buku hasil tulisan tangan Mbah Nun. Saat itu, Mas Firrin sedang menempuh kuliah di Jogja.

“Bermula dari baca buku (karya Mbah Nun-red) yang kemudian jadi candu. Awalnya, itu baca buku berjudul Markesot,” ungkap Mas Firrin.

Karena banyak karya buku Mbah Nun yang telah ia baca, yang akhirnya membuat candu. Mas Firrin pun semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh sosok dari Mbah Nun.

“Terus saya tanya ke temen-temen kuliah waktu di Jogja dulu itu. Apa ada majelisnya atau kegiatan rutinnya? Terus saya diarahkan untuk datang ke Mocopat Syafaat,” cerita Mas Firrin.

Lucunya, Mas Firrin mengira Mocopat Syafaat seperti pengajian pada umumnya. Ternyata, asumsi yang ia pikirkan pun salah. Bahkan, cerita lucu selalu terngiang dan teringat sebagai pengalaman baginya.

“Awal mula datang ke Mocopat Syafaat, saya merasa salah kostum. Kok bisa? Lah, waktu itu saya sarungan, pakai peci, terus baju koko warna putih,” jelasnya sambil tertawa.

Mendengar penuturan Mas Firrin, terdengar tawa renyah dari seluruh dulur Damar Kedhaton yang hadir dalam Majelis Ilmu Telulikuran pada malam hari itu.

Bukan menjadi bahan candaan atau cemoohan, malahan, hal ini menjadi diskusi elaborasi tema berlangsung dengan cair, gayeng, dan mesra.

Selain itu, Mas Firrin juga mengaku, semua tulisan karya Mbah Nun akan selalu relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Atau, relevan sekitar 20 hingga 30 tahun mendatang untuk dipakai pegangan dan pedoman untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Cerita berikutnya dari Cak Mulyono. Cak Mulyono menjelaskan, dia sering dan hampir setiap hari bertemu dengan Cak Madrim, ya karena memang satu desa. Yakni, Dusun Sumber, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas.

“Awal mula saya kenal Maiyah ya lewat YouTube, terutama lagu-lagunya (Kiai Kanjeng-red). Terus dapat cerita juga dari Cak Madrim,” ungkap Cak Mulyono.

Cak Mulyono pertama kali menghadiri Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng saat di Perum Griya Wiharta Asri, Gresik, 22 Oktober 2018 lalu. Selain itu, dia juga mengungkapkan perasaannya saat menghadiri Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton; yang ia rasakan, hatinya terasa bergetar.

Elaborasi tema selanjutnya disampaikan oleh Kak Irul. Kak Irul menjelaskan panjang lebar, terutama yang berkaitan dengan tema pada malam hari itu.

Kak Irul mengagumi dan berkeyakinan kuat, spirit yang ada pada diri Mbah Nun, sangat luar biasa sekali. Termasuk energi dan kekuatannya.

Selanjutnya, Gus Luthfi dipersilakan untuk mewedar panjang lebar, terkait pengalamannya saat mengawal Mbah Nun dalam gelaran Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di berbagai penjuru wilayah di Jawa Timur.

Menurut Gus Luthfi, Mbah Nun sangat disiplin dengan waktu. Mbah Nun betul-betul menghargai berjalannya detik ke menit, menit ke jam. Hingga sedetail itu.

“Mbah Nun sangat disiplin sekali dengan waktu, bahkan hitungan 2 menit pun, itu masuk dalam perhitungannya. Gak ada waktu yang main-main bagi Mbah Nun.

Diskusi elaborasi tema terus berlangsung. Banyak cerita menarik di balik sosok Mbah Nun yang dipaparkan panjang lebar oleh Gus Luthfi.

Sejumlah dulur Damar Kedhaton yang hadir juga ada yang langsung menimpali saat diskusi berlangsung, diselingi dengan tawa renyah yang begitu mesra.

(Redaksi Damar Kedhaton)

Lihat juga

Back to top button