NINU-NINU

Reportase Sulthon Penanggungan Februari 2023

Malam minggu di akhir bulan Februari 2023 menjadi kegembiraan yang dinantikan para pegiat simpul Ma’iyah Sulthon Penanggungan Pasuruan untuk saling berbagi rindu, berbagi ilmu, dan berbagi pengalaman kehidupan tentang ini dan itu.

Persiapan dilakukan para pegiat mulai dari sore hari terkait pemasangan backdrop, install sound system, hingga penataan ruang agar representatif saat kegiatan sinau bareng berlangsung.

Menjelang pukul 20:00 WIB acara sudah dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an Surat Ar-Rahman oleh Cak Luqman yang diteruskan bersholawat dengan iringan terbang para pegiat. Berikutnya dilanjutkan Doa Khotmil Qur’an dan Wirid Padhang mBulan untuk menutup acara pembuka dan mengantarkan ke sesi berikutnya.

Cak Hasan sebagai moderator langsung tancap gas dengan memperkenalkan setiap personil pegiat SP kepada wajah baru yang hadir, kemudian mbeber tema dengan mempersilahkan yang hadir untuk meng-elaborasi prolog sebagai pemantik sebelum glondongan paparan pemateri yang akan diuraikan saat sesi diskusi.

Cak Taufiq mencoba memantik prolog dengan pemaknaan ninu-ninu terkait kebisingan media sosial dan carut-marutnya keadaan negara yang sangat berdampak terutama pada rakyat yang ada pada lapisan paling bawah. Memang apa adanya dan begitu terasanya pada kita di garis bawah. Frame yang masih mengedepankan citra mulia para pejabat negara tidak relevan dengan kesulitan yang tampak di sekitar kita.

Selanjutnya Cak Umar sebagai pemateri pertama yang memaparkan ninu-ninu sebagai segala keruwetan di luar kita yang harus diurai dengan bertanggung-jawab atas diri kita sendiri. Cak Umar memberi suguhan resensi dari buku “Seni Bersikap Bodo Amat” by Mark Manson yang sempat menjadi best seller di New York Times Global and Mail. Ringkasan per bab dijelaskan oleh Cak Umar dengan kesimpulan bahwa yang utama dari proses berkehidupan adalah dengan mengalami, memaknai, dan menerima segala bentuk keruwetan dan penderitaan sebagai bagian dari jalan mencapai tujuan kebahagiaan.

Kemudian diteruskan oleh Cak Luthfi sebagai pemateri kedua yang beberapa bulan kemarin hanya menampung pembicaraan terakhir dan meramu point kesimpulan. Cak Luthfi mengawalinya dengan memberi gelaran pada tema Ninu-Ninu sebagai watak keruwetan kaum ABG (bukan Anak Baru Gede) tapi Ambyar, Bingung, dan Galau. Beliau menjelaskan yang ABG belum tentu kekanak-kanakan dan sebaliknya, karena kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh usia melainkan kematangan ia dalam menjalani hidup. Beliau juga memberi pengetahuan terkait pemahaman politik bagaimana amandemen UUD 1945 ditelanjangi dan dijadikan subyek mati. Struktur negara yang sudah random tata koordinasinya membuat yang merasa berkuasa menjadi raja tunggal untuk berbicara dan menyuruh pejabat otoritas dengan se-enak udelnya. Ketika keadaan sudah ambyar dan kita kebingungan laku hingga menyebabkan Ninu-Ninu maka Cak Lutfhi menyarankan agar kita kembali kepada penampung harapan sejati yaitu hembusan rahmat dan keberkahan Allah SWT dengan cara kembali meneguhkan Sholat, memanjatkan doa, agar ditambah kekuatan keikhlasan hati dan selalu mengingat dan bersyukur bahwa Allah selalu ada dan menjaga kita.

Meluas dan mendalam kata beliau “Cak Hasan” yang menggambarkan kedua materi yang sudah dipaparkan. Kemudian segera memberi ruang dan waktu kepada Cak Sule untuk mengisi jeda sebelum sesi diskusi. Cak Sule kembali mendendangkan Jula-Juli khas Jawa Timuran yang bertema tentang seorang pemimpin.

Selanjutnya sesi diskusi yang cukup gayeng dengan muatan-muatan empiris terkait pengalaman kehidupan yang terkait menepis penderitaan dengan cara memaknai penderitaan sebagai keadaan yang mendekatkan diri pada Tuhan. Juga ada yang sangat personal terkait cinta dan asmara yang juga terkadang membuat tata-laku bujang menjadi ninu-ninu. Cak Luthfi memberi dasar mental pada para pujangga tuna asmara yang hadir dengan mengutip Mas Sabrang yang kurang lebih begini kalimatnya “Ungkapkan saja cintamu, namun jika cintamu tak terbalas artinya cinta itu kembali lagi padamu, dan pakailah cinta yang kembali itu untuk lebih mencintai dirimu”.

Dari persoalan negara, politik, derita, hingga cinta membuat malam minggu itu begitu mendekati sempurna. Menjelang penghujung acara, wirid Hasbunallah dan doa menjadi pamungkas acara malam itu yang selesai tepat tengah malam. Namun frekuensi yang sama di ruangan itu masih menyala hingga mendekati sepertiga waktu menyongsong waktu shubuh. Saya yakin ini fakta tentang rindu yang telah menenggelamkan derita ninu-ninu.

#Redaksi_SP

Lihat juga

Back to top button