MAIYAH TURANGGAH MENSYUKURI 70 TAHUN MBAH NUN

(Mukaddimah Maiyah Turanggah Lamongan, Sabtu 27 Mei 2023) 

Tembang pangkur adalah salah satu dari sebelas  tembang macapat yang menggambarkan kondisi di mana manusia mengalami fase mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan rohani/spiritual.

Tembang pangkur atau mungkur juga dapat diartikan sebagai tembang yang menggambarkan upaya manusia dalam menyingkirkan angkara murka atau hawa nafsu negatif yang menggerogoti jiwa.

Pangkur disinyalir mengandung makna mungkur, nyingkur, memunggungi segala macam nafsu duniawi, yang biasa kita kenal dengan istilah “menempuh jalan sunyi” yang mana konsekuensi logisnya adalah menghadapi dimensi ukhrawi, sisi adiluhung, luhur nan sejati.

Mbah Nun sejak masa muda telah melewati masa pangkur, melalui didikan sang ibunda menjalani “urip malaikatan” dan sang guru eyang Umbu Landu Paranggi. Beliau sering menghaturkan bahwa selama ini beliau sedang “berpuasa” selama hidupnya, yang mana waktu berbukanya adalah kelak saat di akhirat.

Bertepatan dengan milad marja’ kita semua yakni Muhammad Ainun Nadjib atau Mbah Nun yang ke-70 Tahun,  yang selama ini telah menuntun kita, membersamai kita, dan mengajak kita untuk memupuk rasa cinta dan kerinduan kepada Kanjeng Nabi, serta menjalin segitiga cinta antara Allah Swt., Kanjeng Nabi Muhammad Saw., dan kita semua sebagai hamba-Nya.

Pada rutinan kali ini mari kita melimpahkan rasa syukur kita atas dihadirkannya Mbah Nun di antara kita semua melalui majelis lingkar Maiyah Turanggah dengan tema “Pangkur Pitungpuluhan” pada:

Sabtu, 27 Mei 2023 pukul 20.00 WIB

Aula Pon.Pes. Kebondalem Tete, Jatirenggo, Kec. Glagah, Kab. Lamongan.

(Redaksi Maiyah Turanggah) 

Lihat juga

Back to top button