KHUSYU’ TULUS

‘Khusyu’ itu fokus, madhep mantep, tanpa reserve, komitmen total. Khusyu’ itu keindahan. Keindahan bukan hanya menemani kebenaran dan kebaikan, tetapi bahkan memuncaki keduanya.” www.caknun.com/2013/gagah-perkasa-pakde-busan-mengendarai-kuda-cahaya. Diakses pada 14 Februari 2019.

Di bulan Juli, edisi-49. Setelah Tawashshulan yang diniatkan untuk kepulihan Mbah Nun, kami yang hadir saling membagi bagaimana hingga terkait dengan maiyahan. Dari kapan mulai terkait, hingga bertahan sampai sekarang. Mengingat kembali momentum itu untuk saling mensyukuri. Betapa memang persaudaran ini bisa terbangun merupakan karunia dari Allah Swt. 

Dari semua pemaparan satu kata kunci yang digarisbawahi, tulus. Mbah Nun hadir dengan ketulusan. Itu yang terpancar saat titik perjalanan sinau bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng ke-4017 di Samarinda tahun 2018. Ketulusan yang sesungguhnya, memancarkan cahaya kebahagiaan dari setiap yang datang. Satu di antara pancaran cahaya itu kini menjadi majelis masyarakat maiyah di Samarinda, Ma’syar Maiyah Mahamanikam.

Ketulusan Mbah Nun juga hadir di tanah Mandar. Dari ketulusan itu pula yang akhirnya mengantarkan dua orang penggiat Mahamanikam bisa hadir dan membersamai rihlah ke Mandar-Sulbar Oktober 2019. Mas Teguh satu dari yang berangkat bercerita mengingat momen rihlah itu, bahwa di Mandar disambut bagai saudara yang sudah lama tidak bertemu. Nyatanya baru sekali itu bertemu. Betapa benih yang ditanam dengan ketulusan tumbuh dan menghasilkan buah untuk tidak hanya dirasakan penanam, tapi juga dirasakan siapa saja yang berupaya meniti jalan ketulusan yang sama.

Pesan ketulusan Mbah Nun telah kita rasakan. Jalan yang ditempuh menemani manusia dan memanusiakannya. Di tengah Mbah Nun sedang Allah beri kesempatan rehat, menjadikan momentum bagi anak cucunya merefleksikan nilai-nilai ketulusan yang sudah diajarkan dan dicontohkan.

Khusyu tulus juga berjalan dua arah. Dari Mbah Nun dan dari siapa saja yang mendengar nasihat-nasihatnya. Ketulusan dijalani dengan khusyu adalah kunci yang hadir pada majelis masyarakat maiyah bisa lapang dada menerima nasihat kehidupan dengan baik, menggunakan metode sinau bareng. Setelah bisa menerima dengan baik, dalam keterbatasan dan cakupan ruang kehidupan yang berbeda kita semua berupaya memperluas area ketulusan, menjaganya tetap pada khusyu’ tulus. Bekerja dan berkarya untuk tidak berada di wilayah kapitalistik. Edisi ke-50, Agustus 2023 kita jadikan momentum sinau bareng mewedar bagaimana mempertahankan energi ketulusan dimanapun dan kapanpun.

(Redaksi Mahamanikam)

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button