Background Ambience
Harmoni dalam Anugerah Al-Manan
Berita

Harmoni dalam Anugerah Al-Manan

Catatan Tawashshulan dan Silaturahmi Maiyah Jawa Timur di Pasuruan

Dimas Syaiful Amri
Dimas Syaiful Amri

Tanwiih: Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. Kebetulan saya diberi kesempatan ikut terlibat dalam proses persiapan dan penyelenggaraan Tawashshulan serta Silaturahmi Maiyah Jawa Timur di Pasuruan. Karena itu, apa yang saya tuliskan tidak dimaksudkan mewakili siapa pun selain pengalaman batin dan pengamatan saya sendiri.

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Yang Maha Menganugerahkan (Al-Manan), acara Tawashshulan dan Silaturahmi Maiyah Jawa Timur akhirnya dapat tertunaikan dengan baik. Lebih dari seratus jamaah hadir, datang dari berbagai kota dengan membawa wajah, cerita, dan perjalanan masing-masing. Malam itu semua larut dalam kekhusyukan tawashshulan, kehangatan silaturahmi, dan kemesraan paseduluran.

Langit malam seolah ikut merestui pertemuan itu. Udara terasa begitu bersahabat; tidak terlalu dingin diterpa angin malam, namun juga tidak gerah meski ratusan orang berkumpul dalam satu area. Barangkali inilah salah satu bentuk rahmat Allah yang sering kali hadir dalam kesederhanaan, tetapi begitu nyata dirasakan oleh hati.

Kanjeng Nabi bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk mengingat Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan (sakinah), dan Allah menyebut mereka di hadapan para malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Barangkali sakinah itulah yang malam itu mengalir tanpa banyak disadari. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk yang kasatmata, melainkan hadir sebagai rasa tenteram yang menyelimuti seluruh perjumpaan.

Acara dilaksanakan di area Gubug Kuliner Ati Jembar, sebuah tempat yang dikelola oleh putra-putri almarhum Ustadz Ibnu Sina yang merupakan sahabat Mbah Nun. Seolah-olah tempat itu tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang tilas; tempat jejak-jejak persahabatan, perjuangan, dan cinta yang dahulu pernah ditanam kembali menemukan denyut kehidupannya.

Ada suasana yang sulit diterjemahkan oleh kata-kata. Saya menyaksikan para sedulur Maiyah datang dari berbagai arah. Ada para sepuh yang tetap bersemangat hadir, ada pula sedulur dari daerah yang cukup jauh. Sedulur dari Bondowoso, Mas Fuad dari Maneges Qudroh, Mas Dandy yang berdomisili di Klaten, dan banyak sedulur lainnya datang tanpa membawa sekat identitas maupun kepentingan. Semua melebur dalam satu atmosfer yang sama: paseduluran.

Bagi saya, justru di titik itulah letak keistimewaan Maiyah. Orang-orang tidak datang karena undangan formal, tidak pula karena ikatan organisasi yang mengharuskan kehadiran. Mereka datang karena panggilan hati. Dalam perspektif sosiologi modern, fenomena seperti ini dapat dijelaskan melalui konsep social capital yang diperkenalkan Robert Putnam. Ia menjelaskan bahwa masyarakat akan memiliki daya hidup yang kuat ketika dibangun oleh jaringan kepercayaan (trust), norma saling membantu, dan hubungan timbal balik (reciprocity), bukan semata-mata oleh struktur formal.

Maiyah, dalam banyak hal, menghadirkan modal sosial semacam itu. Kepercayaan menjadi mata uang utama. Kehadiran menjadi bentuk cinta. Gotong royong lahir bukan karena kewajiban administratif, melainkan karena kesadaran batin.

Hal ini juga sejalan dengan teori Gemeinschaft dari Ferdinand Tonnies, yaitu bentuk komunitas yang bertumpu pada kedekatan emosional, nilai bersama, dan rasa memiliki. Berbeda dengan Gesellschaft yang cenderung dibangun oleh kontrak dan kepentingan, paseduluran lebih dekat kepada Gemeinschaft: hubungan yang tumbuh karena rasa, bukan semata-mata fungsi.

Dalam perspektif Islam, semangat itu menemukan landasannya pada konsep Al-Mutahabbina Fillah, orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Seperti pada sabda Kanjeng Nabi; bahwa pada hari kiamat Allah akan menaungi mereka yang saling mencintai karena-Nya dengan naungan yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Cinta semacam ini tidak dibangun atas dasar manfaat duniawi, melainkan karena kesamaan orientasi menuju Allah.

Karena itulah, ketika kami membentuk wadah bernama Paseduluran Maiyah Pasuruan, yang kami pegang bukanlah semangat membangun organisasi, melainkan menjaga ruh Al-Mutahabbina Fillah itu sendiri.

Kami sengaja memilih istilah paseduluran karena ia terasa lebih hidup. Paseduluran adalah ikatan yang melampaui struktur. Ia merupakan ruang untuk saling menguatkan, saling belajar, saling menjaga, dan saling bertumbuh.

Bentuk ini juga kami pilih agar tetap lentur menghadapi berbagai kebutuhan zaman. Dalam kondisi tertentu ia dapat bergerak sebagai simpul, pada kesempatan lain menjadi lingkar, bahkan dapat menjelma menjadi empan papan tertentu yang menyesuaikan kebutuhan. Kami mencoba belajar mendewasakan diri melalui dinamika antara padat dan cair; memiliki pijakan nilai yang kokoh, tetapi tetap luwes dalam bentuk.

Pandangan ini mengingatkan pada teori Complex Adaptive System dalam ilmu organisasi modern. Sebuah sistem yang sehat bukanlah sistem yang seluruh geraknya dikendalikan oleh satu pusat komando, melainkan jaringan yang terdiri atas banyak simpul yang mampu beradaptasi, belajar, dan saling menguatkan. Ketika setiap simpul memahami tujuan bersama, koordinasi tidak selalu membutuhkan instruksi yang kaku. Keteraturan justru lahir dari kesadaran kolektif.

Dalam filsafat Islam, prinsip semacam ini juga dapat dipahami melalui konsep syura (musyawarah), ta’awun (saling menolong), dan ukhuwwah, yang menempatkan setiap orang sebagai subjek yang sama-sama bertanggung jawab terhadap kemaslahatan bersama.

Karena itu, dalam Paseduluran Maiyah Pasuruan tidak ada struktur hierarkis yang padat. Tidak ada figur yang harus mengendalikan seluruh gerak. Semua berusaha memahami peran masing-masing.

Kami sering menyebutnya dengan istilah yang akrab di telinga kita sebagai Jamaah Maiyah: Urip Sesemutan.

Seekor semut tidak pernah menunggu aba-aba untuk bekerja. Ia mengetahui tugasnya, membaca situasi, saling memberi isyarat, lalu bergerak bersama. Tidak ada yang merasa paling penting, tetapi setiap peran menjadi penting.

Dalam ilmu biologi dan teori kompleksitas, perilaku koloni semut dikenal sebagai swarm intelligence atau kecerdasan kolektif. Koloni mampu menyelesaikan persoalan yang rumit tanpa pemimpin tunggal, karena setiap individu memberikan kontribusi kecil yang kemudian membentuk keteraturan besar. Fenomena ini mengajarkan bahwa kekuatan komunitas tidak selalu lahir dari kepemimpinan yang dominan, melainkan dari kesadaran bersama yang terus dipelihara.

Al-Qur’an sendiri memberikan isyarat yang indah melalui Surah An-Naml ketika mengisahkan koloni semut yang mampu berkomunikasi, saling menjaga, dan bertindak demi keselamatan bersama. Seekor makhluk kecil justru menjadi pelajaran besar tentang pentingnya kerja kolektif dan kepemimpinan yang berbasis kesadaran.

Pengalaman itu kami rasakan ketika menerima kabar dari Mas Rony Paseban bahwa Pasuruan dipercaya menjadi tuan rumah rutinan Silaturahmi Maiyah Jawa Timur. Tanpa rapat yang bertele-tele, kabar segera diteruskan kepada lingkar-lingkar yang ada.

Yang terjadi kemudian sungguh menghangatkan hati.

Satu per satu sedulur mulai menawarkan bantuan. Ada yang menyiapkan tempat, konsumsi, perlengkapan, dokumentasi, parkir, kebersihan, penerima tamu, hingga hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian. Tidak ada yang diperintah. Tidak ada yang menunggu penunjukan. Semua bergerak sesuai kemampuan dan keluasan rezeki yang dimiliki.

Barangkali beginilah makna firman Allah: “Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)

Ta’āwun bukan sekadar bekerja bersama, melainkan kesediaan menghadirkan diri demi kemaslahatan orang lain.

Malam itu saya belajar bahwa harmoni tidak pernah lahir dari keseragaman. Harmoni justru lahir ketika setiap orang membawa keunikan masing-masing, namun seluruhnya bergerak menuju tujuan yang sama.

Mungkin inilah anugerah terbesar dari Al-Manan: bukan sekadar terselenggaranya sebuah acara, melainkan tumbuhnya kesadaran bahwa paseduluran yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah akan selalu menemukan jalannya sendiri. Sebab selama hati-hati tetap terhubung kepada-Nya, perjumpaan bukan hanya mempertemukan manusia dengan manusia, melainkan juga mempertemukan manusia dengan makna. Demikian, sedikit catatan dari saya, Al fakir yang perlu banyak belajar tentang dinamika antara ilmu dan adab.

Bagikan:
Dimas Syaiful Amri

Dimas Syaiful Amri

Tulisan Terbaru dari Dimas Syaiful Amri

HOME