Kegagapan berpikir sering lebih berbahaya daripada kemiskinan materi. Sunyi. Namun pelan-pelan menghancurkan dari dalam tanpa terasa. Pendidikan yang kehilangan adab ibarat pohon besar keropos di akarnya. Tampak kokoh, padahal rapuh. Jumat malam, 13 Februari 2026, kegelisahan itu dibedah bersama dalam Juguran Syafaat di Hetero Space Banyumas, Purwokerto.
Sekitar enam puluh jamaah duduk melingkar sederhana tanpa jarak protokoler. Mahasiswa, masyarakat umum, dan penggiat Maiyah menyatu dalam suasana akrab. Forum dimulai pukul 20.00 dan berakhir 01.00 dini hari. Lima jam percakapan mengalir seperti sungai tenang namun dalam. Tak ada yang benar-benar tergesa pulang. Ada yang mengantuk, tetapi tetap bertahan. Diskusi terasa lebih penting daripada kantuk.
Sebagai bagian dari Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib, Juguran Syafaat bukan forum biasa. Ia ruang belajar bersama yang cair dan jujur. Rutin digelar, tetapi tak pernah kehilangan daya gugah. Tema malam itu mengerucut pada pendidikan dan adab. Dua kata yang terdengar klasik. Namun justru makin relevan di tengah zaman yang gaduh. Pendidikan hari ini sering dipersempit menjadi angka dan gelar. Adab pelan-pelan tersisih ke pinggir kesadaran kolektif. Di sinilah percakapan dimulai.

Toto Rahardjo membuka forum dengan istilah simbolik yang mengguncang. Bangsa Meica. Sebuah metafora tentang bangsa yang menghancurkan dirinya sendiri. Bukan karena penjajahan fisik. Melainkan karena kesalahan cara berpikir dan bersikap. Ketika nilai ditinggalkan, kerusakan berjalan sistematis. Sikap abai terhadap kebenaran menjadi kebiasaan. Tindakan yang merugikan masa depan dianggap lumrah. Bangsa Meica bukan nama negara tertentu. Ia cermin yang bisa memantulkan wajah siapa saja. Jika pendidikan tak lagi menanamkan adab, kehancuran hanya soal waktu. Pelan. Namun pasti.
Dari istilah itu, Toto mengurai Trisentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus saling menguatkan. Bukan berjalan sendiri-sendiri dengan ego masing-masing. Rumah menjadi rahim pertama pembentukan karakter anak. Di sana nilai ditanamkan sebelum teori dikenalkan. Sekolah memperluas wawasan dan melatih disiplin berpikir. Masyarakat menjadi ruang uji konsistensi sikap. Jika salah satu pincang, keseluruhan bangunan goyah. Pendidikan tak bisa diserahkan hanya pada institusi formal. Ia tanggung jawab kolektif yang saling terkait erat.
Titut Edi Purwanto kemudian menegaskan pentingnya adab sebagai fondasi. Pokok. Ilmu tanpa adab bisa berubah menjadi alat dominasi yang dingin. Ia berkisah tentang cucunya yang belajar di kebun. Belajar bersama tanah, air, dan cahaya matahari. Alam menjadi guru yang sabar dan tidak menghakimi. Dari proses itu, anak belajar menghargai waktu dan kesederhanaan. Bukan sekadar mengejar nilai rapor. Bukan pula pujian kosong. Pendidikan menurutnya tak selalu harus berada di ruang kelas tertutup. Kehidupan sehari-hari menyediakan laboratorium yang jujur.

Titut juga menyinggung etika terhadap tamu, yang tampak sederhana namun bermakna dalam. Jangan menutup pintu sebelum tamu benar-benar pergi dari pandangan. Tunggu hingga ia tak terlihat lagi dari rumah kita. Sikap kecil itu mencerminkan penghormatan dan perhatian. Adab bukan teori rumit. Ia laku harian yang konsisten. Dari cara menyambut hingga cara melepas. Dari hal remeh hingga keputusan besar.
Ulul Aedi menggeser fokus pada realitas mahasiswa hari ini. Kampus sering terjebak dalam beban administratif dan target formalistik. Ruang berpikir kritis menyempit tanpa disadari. Mahasiswa sibuk mengejar kelulusan tepat waktu. Diskusi mendalam sering kalah oleh tuntutan praktis. Karena itu, forum rutin dengan tema bebas menjadi ruang alternatif. Di sana mahasiswa bisa menguji gagasan tanpa takut salah. Tanpa tekanan hierarki yang kaku. Ruang aman seperti ini terasa langka sekaligus mendesak.
Agus Sukoco menambahkan perspektif tentang kejelasan akad pendidikan. Hubungan antara orang tua dan sekolah mesti dilandasi kesepahaman nilai. Bukan sekadar kontrak administratif tahunan. Akad berarti komitmen moral dan tanggung jawab bersama. Jika orang tua menyerahkan sepenuhnya pada sekolah, ada jarak yang tercipta. Jika sekolah berjalan tanpa komunikasi nilai, arah bisa kabur. Pendidikan bukan transaksi jasa. Ia proses pembentukan manusia seutuhnya.

Sesi tanya jawab memperkaya dinamika malam itu. Fahmi mempertanyakan prioritas anggaran pendidikan dan kesehatan dalam kebijakan negara. Jika dua sektor itu tidak menjadi fokus, apa dampaknya bagi generasi mendatang. Toto menjawab dengan kehati-hatian reflektif. Belum bisa disimpulkan sekarang. Tunggu lima tahun ke depan. Waktu diperlukan untuk melihat arah kebijakan secara utuh. Kesimpulan tergesa sering menyesatkan.
Nafan mengangkat fenomena lonjakan mahasiswa baru di fakultasnya. Toto mengaitkannya dengan konsekuensi kebijakan PTN-BH. Perguruan tinggi harus mencari penopang operasional secara mandiri. Beban pembiayaan mendorong berbagai strategi penerimaan mahasiswa. Realitas itu kompleks dan tidak hitam putih. Pendidikan tinggi berada di persimpangan antara idealisme dan kebutuhan praktis.
Fikry kemudian bertanya tentang cara efektif mengorganisir komunitas. Banyak kepala, banyak pandangan. Toto menjawab dengan pendekatan mendasar. Organisir pikiran masing-masing individu terlebih dahulu. Pastikan ada satu frame berpikir bersama. Tanpa kesamaan arah nilai, organisasi mudah retak dari dalam. Kepemimpinan bukan sekadar struktur. Ia kerja sunyi menyatukan cara pandang.
Menjelang pukul satu dini hari, suasana tetap hangat. Tak ada kegaduhan. Percakapan mengendap dalam pikiran masing-masing jamaah. Toto mengutip E.F. Schumacher dengan kalimat sederhana namun kuat. Small is beautiful. Perubahan tak harus dimulai dari skala raksasa. Fokus pada lingkar kecil yang bisa dijangkau dengan sungguh-sungguh. Dari keluarga. Dari komunitas terdekat. Dari diri sendiri.
Agus menutup dengan refleksi tentang Ramadhan. Ia menyebutnya ruang pendidikan yang Tuhan sediakan bagi manusia. Di bulan itu, manusia dilatih menahan diri dan membersihkan niat. Ada peluang naik maqom spiritual jika dijalani serius. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia laboratorium pengendalian diri dan pemurnian sikap.

Malam itu berakhir sederhana tanpa seremoni berlebihan. Namun gagasan masih bergetar lama setelah forum ditutup. Pendidikan ternyata bukan sekadar kurikulum, angka statistik, atau kebijakan administratif. Ia laku yang konsisten. Ia adab yang dijaga. Juguran Syafaat kembali mengingatkan satu perkara mendasar. Bangsa bisa runtuh oleh pikirannya sendiri. Namun bangsa juga bisa bangkit oleh kesadaran kecil yang dirawat tekun setiap hari. Pelan. Namun pasti.





