AN’AMTA ‘ALA MAIYAH, MEMBACA AKAR SEJARAH MAIYAH 

(Liputan Majelis Ilmu Maiyah Kenduri Cinta Jakarta, Jumat, 26 Mei 2023)

Kenduri Cinta edisi Mei 2023 (26/5) digelar pada minggu terakhir. Sebuah anomali, karena jadwal reguler Kenduri Cinta adalah Jum’at kedua setiap bulannya. Bulan masehi tentunya. Sedikit berbeda dengan Padhangmbulan, yang menjadwalkan pada setiap malam bulan purnama (minggu kedua), pada kalender qomariyah. Meskipun harus menunggu jeda agak lama dari edisi April 2023, nyatanya jamaah Maiyah yang hadir di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki tadi malam justru membludak. Lebih banyak dari edisi sebelumnya, yang juga diselenggarakan di tempat yang sama.

Bisa jadi, momen malam 27 Mei 2023 menjadi daya tarik tersendiri bagi Jamaah Maiyah yang hadir semalam. Biasanya, 27 Mei selalu menjadi momen istimewa bagi Jamaah Maiyah untuk berkumpul bersama di Padhangmbulan, Menturo Sumobito Jombang. Terakhir kali diadakan di Menturo untuk momen 27 Mei adalah di tahun 2019. Tahun 2020-2022, karena pandemi Covid-19, agenda di Menturo pun tidak diselenggarakan. Tahun lalu diselenggarakan Tawashshulan 27 Mei 2022 di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta. Dan tahun ini, Kenduri Cinta mendapat momen istimewa untuk menyelenggarakan agenda, meskipun tidak pas di tanggal 27 Mei.

27 Mei, momen hari ulang tahun Cak Nun, guru kita semua. Tentu saja, harapan kita sebagai Orang Maiyah adalah agar Cak Nun beserta Ibu Novia Kolopaking dan keluarga, selalu dilimpahkan kesehatan, keamanan, keselamatan, dan keberkahan. Sehingga Cak Nun masih akan terus menemani kita di Maiyah.

Tentu saja mustahil untuk tidak menarik benang merah antara Maiyah dengan Cak Nun. Sebagai sosok sentral di Maiyah, Cak Nun memiliki pengaruh sangat besar di Maiyah. Tidak bisa dibantah. Kenduri Cinta dengan tema “An’amta ‘Ala Maiyah” ini bertujuan untuk kita bersama-sama menarik garis ke belakang, ke perjalanan Cak Nun sejak era Menturo, Gontor, Yogyakarta, Jakarta, Amerika, Belanda, Jerman, dan lain sebagainya. Perjalanan panjang yang tentu saja juga memberi pengaruh terhadap keberlangsungan pergerakan Maiyah hari ini. Tanpa bermaksud berlebihan, jangan dibayangkan bahwa Maiyah ini adalah sebuah pergerakan yang kemudian akan memadat menjadi sebuah lembaga atau ormas. Istilah pergerakan hanya untuk memudahkan saja bagi pembaca awam Maiyah agar lebih memahami Maiyah.

Lihat juga

Setelah dibuka dengan Tawashshulan hingga Mahalul Qiyam, Kenduri Cinta tadi malam langsung tancap gas, tanpa ada sesi Mukadimah seperti forum biasanya bergulir. Setelah grup Lahila Band menata alat dan sound check  dengan memainkan 1-2 lagunya, Tri Mulyana dan Fahmi Agustian memandu diskusi sesi pertama bersama Ian L. Betts dan Ali Hasbullah.

Atmosfer Gembira di Maiyah

“Kita berkumpul di Maiyah, datang rutin setiap bulan, merasakan atmosfer kegembiraannya, dan selalu ingin datang lagi, karena salah satunya adalah kita menemukan kesepakatan atas nilai yang dibawa oleh Cak Nun di Maiyah,” Fahmi Agustian memberi sedikit lambaran diskusi awal. 

Perjalanan Maiyah, yang memasuki akhir dekade ke-3, jika dihitung dari awal mula Padhangmbulan, adalah sebuah perjalanan yang tidak datang tiba-tiba, tidak ujug-ujug jadi Maiyah. Tidak. Ada proses panjang perjalanan Cak Nun yang sebelumnya menjadi dasar dari pondasi Maiyah hari ini. Persentuhan Cak Nun dengan rakyat kecil sudah berlangsung sejak tahun 70-an. 

Fahmi melanjutkan dengan sedikit menceritakan sejarah awal mula Padhangmbulan sebagai embrio Maiyah, bahwa forum Padhangmbulan itu bermula dari usulan Cak Dil, adik Cak Nun menginisiasi satu jadwal, sekali dalam satu bulan agar Cak Nun bisa pulang ke Menturo. Sangat sederhana awalnya, hanya agar Cak Nun pulang ke Menturo, berkumpul bersama keluarga di Menturo. Tapi memang popularitas Cak Nun di awal 90-an sudah sangat tinggi. Tulisan-tulisan Cak Nun bermunculan di banyak media massa cetak saat itu, sehingga meskipun belum ada internet, hanya informasi dari mulut ke mulut, masyarakat akhirnya mengetahui bahwa ada forum Padhangmbulan di Menturo. Hingga Padhangmbulan pun menjadi sangat fenomenal saat itu. Puluhan ribu masyarakat berkumpul di setiap malam bulan purnama, memenuhi halaman rumah Cak Nun di Menturo, meluber hingga jalan desa, bahkan hingga lapangan desa.

Sebelum Padhangmbulan lahir, Cak Nun yang memang sejak dulu memposisikan diri sebagai oposisi bagi penguasa, melahirkan banyak sekali karya-karya yang memang dijadikan oleh Cak Nun untuk mendobrak hegemoni penguasa saat itu. Buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya tahun ini usianya 40 tahun, tetapi tulisan-tulisan di dalam buku itu masih sangat relevan dengan Indonesia hari ini. Betapa karya-karya Cak Nun sendiri tak lekang oleh zaman.

Sedikit menambahkan, Tri Mulyana menceritakan satu era di mana Cak Nun memiliki semacam slot khusus di Delta FM, dengan durasi sekitar 3-5 menit untuk menyampaikan gagasannya. Mungkin jika dipadankan dengan era Spotify sekarang, bisa dikatakan sesi slot di Delta FM itu adalah Podcast-nya Cak Nun di masa itu. Beberapa rekaman episode itu bisa juga ditemui saat ini di Youtube, bisa search dengan keyword: Cak Nun Delta FM. Ada dua hal yang digarisbawahi oleh Tri mengenai Cak Nun di era Delta FM itu; Tahadduts Bin Ni’mah dan Empan Papan. Dua kunci yang menurut Tri adalah pijakan nilai luhur yang sangat substansial sebagai bekal manusia hidup.

Ian L. Betts kemudian ikut memberikan pandangan tentang Maiyah, Cak Nun dan juga KiaiKanjeng tentunya. Karya-karya puisi Cak Nun seperti 99 untuk Tuhanku, Cahaya Maha Cahaya hingga yang terbaru Rahman Rahim Cinta. Selain juga buku-buku Cak Nun seperti Dari Pojok Sejarah, Indonesia Bagian Dari Desa Saya dan puluhan buku lainnya. Sementara untuk naskah teater, Ian L. Betts mencatat ada 18 naskah Teater yang ditulis Cak Nun. Belum lagi jumlah artikel yang dipublikasikan di media massa cetak. Dan tentu saja agenda rutin Simpul Maiyah yang bergulir setiap bulan, juga acara-acara yang dihadiri oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng, menemui masyarakat dari berbagai kalangan, di seluruh Indonesia, dan luar negeri, di mana Cak Nun selalu konsisten membawa nilai-nilai humanisme, sosial, budaya dan tentu saja spiritual. Bagi Ian L. Betts, apa yang dilakukan oleh Cak Nun adalah sebuah social activity yang secara materi tidak bisa dihitung secara capital seperti halnya kita menghitung profit di perusahaan.

Produktivitas Cak Nun mulai dari esai, puisi, syair, lagu, naskah teater, skenario film hingga acara-acara yang melibatkan masyarakat di berbagai tempat, bagi Ian L. Betts adalah sebuah value yang tidak bisa dihitung secara kapital. Produktivitas yang tinggi, bersinggungan dengan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai kalangan, dari berbagai penjuru lokasi, di Indonesia maupun luar negeri, adalah sebuah output yang sangat sukar untuk dipahami dengan logika normal manusia. Puluhan tahun Cak Nun berjuang dengan core value tentang humanitarian, sosial, solidaritas dan spiritual yang sama, konsisten, tidak terpengaruh sama sekali dengan gejolak yang ada, menjadi satu bukti betapa karakter Cak Nun begitu kuat dalam memegang prinsipnya mengenai kemerdekaan manusia.

“Cak Nun mampu mentransformasikan dirinya untuk menjadi nilai, bukan hanya soal pertumbuhan produktivitasnya saja dalam menulis, tetapi juga sebagai nilai dan sikap hidup. Karena spiritual output lebih penting dari sekadar financial output atau juga professional output,” Ian L Betts menambahkan.

“Salah satu semangat Maiyah adalah mengembalikan nilai-nilai Islam seperti yang dulu disampaikan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw,” Ali Hasbullah turut menambahkan beberapa pandangannnya mengenai Cak Nun dan Maiyah. Sesuai tujuan utama diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad saat itu adalah membangun peradaban yang dikehendaki oleh Allah Swt. Innama bu’istu liutammima makarimal akhlaq.

Ali sedikit mengulas perjalanan Rasulullah Saw., bahwa saat risalah kenabian sampai kepada beliau, tidak ada pamrih pribadi. Apa yang didapat dari wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt., sepenuhnya disampaikan oleh Kanjeng Nabi kepada ummatnya, bukan untuk pribadinya. Semangat inilah yang dibangun oleh Cak Nun di Maiyah, bahwa nilai-nilai Maiyah dimaksudkan dalam rangka untuk mengembalikan kesejatian nilai-nilai Islam itu sendiri.

Menurut Ali, apa yang dilakukan Cak Nun di Maiyah adalah menanam benih-benih peradaban yang mungkin kita juga tidak akan merasakan buahnya, bahkan melihat pohonnya tumbuh pun mungkin tidak. Tetapi semoga benih it uterus bertumbuh, hingga akhirnya nanti, pada momen yang tepat, yang kompatibel dengan kehendaknya Allah Swt., buah dari benih yang ditanam itu akhirnya dipanen, dan mampu memberi manfaat untuk ummat manusia.

Tidak terasa, diskusi sesi pertama sudah berlangsung 1 jam lebih. Untuk sejenak memberi jeda, Lahila Band kembali naik ke panggung, membawakan beberapa nomor lagu. Diantaranya lagu karya Cak Nun; “Jalan Sunyi”.

Setelah penampilan Lahila Band, Cak Nun turut bergabung di atas panggung, menyapa jamaah Maiyah di Kenduri Cinta.  “Bismillahirrahmanirrahiim, Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah untuk segala hal yang kita alami; kegembiraan, kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan juga penderitaan, kesulitan hidup, apa saja kita syukuri”, Cak Nun mengawali.

Cak Nun menjelaskan bahwa terminologi An’amta adalah terminologi yang diambil dari surat Al Fatihah, dimana subjek “ta” dalam kalimat tersebut adalah Allah sendiri. Kemudian, Cak Nun menjelaskan bahwa An’amta ‘Ala Maiyah adalah bahwa Allah memberi kenikmatan kepada Maiyah dalam kondisi pasif, maka diperlukan aktivasi-aktivasi yang harus dilakukan oleh Orang Maiyah agar An’amta ‘Ala Maiyah menjadi aktif. Cak Nun menyampaikan bahwa pendaran ilmu di Maiyah yang disampaikan oleh siapa saja di forum Maiyah sifatnya adalah yuwaswisu fii shuduuri-n-naas, yang sifatnya positif. Yang sering dilakukan oleh Cak Nun di Maiyah adalah membongkar mainstream berpikir orang kebanyakan, mendobrak kebiasaan yang ada, dengan tujuan mengembalikan kepada ilmu yang sejati. Dan itu dilakukan di Maiyah selama 3 dekade terakhir ini.

Sejenak kemudian, Cak Nun melempar pertanyaan kepada jamaah; “Apa yang menurut anda di Maiyah yang paling nikmat?”. Ada banyak jawaban yang muncul secara spontan. Ada yang merasakan bahwa di Maiyah ada jaminan keamanan satu sama lain, meskipun tidak saling mengenal, meskipun bersebelahan antara laki-laki dan perempuan, tanpa ada sekat. Ada yang menemukan kemurnian, keotentikan di Maiyah. Tentu saja ada banyak sekali variabel jawabannya yang muncul dari setiap Orang Maiyah. Dan ketika kita bersentuhan dengan Maiyah, ada aktivasi cinta didalamnya, sehingga salah satu outputnya di Maiyah adalah kegembiraan dan kebahagiaan karena atmosfer yang dibangun di Maiyah adalah atmosfer untuk kebersamaan bukan untuk individu semata.

Cak Nun kemudian membedah mengenai materialisasi, materialisme, kapitalisasi, dan kapitalisme. Menurut Cak Nun, kita hidup di dunia ini butuh uang, tetapi jangan sampai uang itu menjadi hal yang paling utama dalam hidup kita. Maka Cak Nun memberi bekal tentang 4 hal yang mutlak dibutuhkan oleh manusia; 1. Manusia harus beres hubungannya dengan Allah, 2. Manusia harus beres hubungannya dengan sesama manusia, 3. Manusia harus memiliki jiwa entrepreneurship, jiwa wirausaha, semangat untuk ubet berusaha dan 4. Manusia harus menguasai bahasa sesuai dengan bidangnya.

Empat hal tersebut menurut Cak Nun adalah bekal utama bagi manusia agar tidak terpeleset saat menjalani kehidupan di dunia, dan selalu aman saat berusaha mencari nafkah untuk dirinya, untuk keluarganya, sehingga pijakannya selalu keamanan dan keselamatan, tidak hanya atas dirinya tapi juga keluarganya.

Sekitar 1 jam lebih Cak Nun mewedar ilmu-ilmu yang bisa dikatakan baru di Maiyah, yang belum pernah disampaikan akhir-akhir ini di forum Maiyah lain. Terlebih, akhir-akhir ini Cak Nun sedang sangat produktif dalam menulis seri “Tadabbur Hari Ini”. Besar kemungkinan, eksplorasi yang dilakukan oleh Cak Nun mengenai tulisan-tulisan itu yang kelak melahirkan ilmu-ilmu baru dari Cak Nun untuk disampaikan kepada kita di forum Maiyah secara langsung, yang mungkin tidak sempat dituliskan dalam tulisan-tulisan beliau.

Mensyukuri 70 tahun Cak Nun

Menjelang tengah malam, menuju perpindahan hari, teman-teman Kenduri Cinta menyiapkan 2 tumpeng yang kemudian disajikan di atas panggung. Afif dan Hadi memimpin upacara pembacaan doa untuk Cak Nun, yang kemudian dipuncaki oleh Pakde Mus. Semua jamaah kembali khusyuk, menep, bermunajat dan memanjatkan doa untuk Cak Nun, Ibu Via, dan seluruh keluarga.

Sebuah kejutan untuk Cak Nun, Rampak, anak bungsu Cak Nun tiba-tiba datang di Kenduri Cinta dan langsung bergabung di panggung. Rampak kemudian memotong tumpeng dan kemudian memberikannya kepada Cak Nun, Pakde Mus, dan Mas Ian. Suasana gembira mensyukuri ulang tahun Cak Nun ke-70. Tumpeng pun kemudian dinikmati oleh jamaah Kenduri Cinta, sederhana namun tidak mengurangi rasa khidmat.

Setelah menikmati tumpengan, Fahmi mempersilakan beberapa jamaah untuk menyampaikan kesan atau mungkin ada pengalaman pribadi tentang Cak Nun. Meskipun pada akhirnya yang muncul adalah respons-respons dan pertanyaan-pertanyaan kepada Cak Nun. Fahmi sedikit memantik dari sebuah cerita saat Cak Nun masih muda, sering diundang mengisi seminar di kampus-kampus, namun tidak sekali dua kali, Cak Nun justru tidak dikenali oleh panitia pelaksana di lapangan.

Cak Nun kemudian menceritakan beberapa pengalaman lucu. Suatu kali almarhum Agung Waskito, salah satu sahabat Cak Nun yang menjadi sutradara pementasan “Lautan Jilbab”, dijanjikan oleh Cak Nun akan diberi uang untuk biaya perjalanan menuju Makassar dalam rangka melamar seorang perempuan. Cak Nun menjanjikan akan memberi uang dengan harapan uang tersebut didapatkan dari honor mengisi sebuah acara. Namun ternyata, dari acara tersebut Cak Nun tidak mendapat honor, sementara seorang pengisi acara lainnya yang notabene adalah artis cilik, justru mendapat honor yang cukup besar. 

Lain hari, Cak Nun diminta mengisi sebuah acara di UGM, lagi-lagi bersama almarhum Agung Waskito. Saat itu Agung menjanjikan akan menjemput Cak Nun setelah mengisi acara di UGM. Dalam bayangan Cak Nun, karena akan dijemput, paling tidak akan naik sepeda motor. Namun ternyata tidak, melainkan jalan kaki.

Yang lucu lagi, selama perjalanan jalan kaki dari UGM, beberapa mahasiswa yang merupakan peserta acara saat Cak Nun mengisi materinya, dengan santainya melewati Cak Nun dan Agung Waskito yang sedang jalan kaki, sementara mahasiswa itu naik sepeda motor. Memang hidup itu harus ada lucu-lucunya seperti itu juga.

Memuncaki Kenduri Cinta tadi malam, Cak Nun secara khusus memohon doa untuk 70 tahun usia beliau, terutama doa untuk kesehatan, keselamatan, keberkahan untuk beliau dan juga untuk Ibu Novia Kolopaking, dan juga anak-anak beliau berdua. 

Lewat pukul 01.00 dinihari, Kenduri Cinta diakhiri. Tentu saja rindu ini belum tuntas, masih ada rasa ingin melingkar bersama. Tapi, rasa rindu pun harus tetap terjaga dosisnya, untuk sejenak kita tahan, hingga pada saatnya rindu yang membuncah itu akan tuntas pada forum Kenduri Cinta edisi bulan Juni 2023. Insya Allah.

(Redaksi Kenduri Cinta)

Lihat juga

Back to top button