QORBAN DEMOKRASI

(Mukaddimah Majelis Ilmu Maiyah Gambang Syafaat Semarang Edisi Juni 2024)

Dalam bahasa dan praktik budaya kita, dua kata sering digunakan secara bergantian namun memiliki makna yang sangat berbeda: ‘korban’ dan ‘qurban’. Meski mungkin tampak serupa, konotasi dan implikasi mereka sangat berbeda, terutama dalam konteks keagamaan dan sosial. Ada perbedaan mendasar antara ‘korban’ dan ‘qurban’ terletak pada konotasinya. ‘Korban’ biasanya merujuk kepada individu atau entitas yang menanggung kerugian atau efek negatif dari suatu tindakan atau peristiwa, menimbulkan gambaran penderitaan, kerugian, dan ketidakadilan. Di sisi lain, ‘qurban’ dalam konteks keagamaan Islam, adalah hewan yang disembelih sebagai simbol pengorbanan dalam perayaan Idul Adha yang menekankan aspek-aspek positif seperti kasih sayang, ketaatan, tanggung jawab, dan kesempatan untuk mendekatkan hubungan dengan Tuhan.

Qurban merupakan suatu pendekatan strategis untuk mencapai kedekatan, dengan pelaksana tindakan ini dikenal sebagai Muqarrib dan statusnya menjadi Qarib. Jika tingkat kedekatan meningkat, ia disebut aqrab atau akrab. Qurban menggambarkan strategi sosial untuk mencapai sesuatu yang sebelumnya jauh dan kemudian menjadi lebih dekat. Meski jika qurban diinterpretasikan sebagai “korban” atau “victim”, selama kita yang memulai untuk berkorban, dan tidak memaksa orang yang kita cintai untuk berkorban, cinta akan tumbuh subur.

Bagaimana paradoks Qurban dan korban mempengaruhi persepsi masyarakat terkait kebijakan publik, seperti dalam situasi ketika pemimpin politik harus membuat keputusan tidak populer? Dalam konteks ini, bagaimana peran ‘Qurban’, yang seharusnya positif dan sukarela, bisa terdistorsi menjadi ‘korban’ yang merujuk pada kerugian dan ketidakadilan, khususnya ketika kebijakan tersebut berdampak langsung pada masyarakat dan bagaimana fenomena ini tercermin dalam isu-isu sosial lainnya, seperti situasi ekonomi yang sulit yang mendorong pekerja dan masyarakat¬† seperti pemotongan gaji?

Dengan demikian, Qurban dan korban, meski memiliki akar kata yang sama, memiliki konotasi dan makna yang sangat berbeda tergantung pada konteksnya. 

Qorban Demokrasi 1

Konsep “Qurban” dalam konteks keagamaan menekankan nilai-nilai positif seperti pengorbanan, kasih sayang, ketaatan, dan keinginan untuk mendekatkan hubungan dengan Tuhan. Sebaliknya, konsep “korban” sering kali dikaitkan dengan penderitaan, kerugian, dan ketidakadilan. Perbedaan dan pemahaman lebih lanjut tentang kedua konsep ini tidak hanya penting untuk pemahaman kita tentang agama dan masyarakat, tetapi juga memiliki implikasi yang jauh lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan budaya.¬†

Untuk memperdalam pemahaman kita tentang perbedaan dan persamaan antara Qurban dan korban, serta dampak dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, kita akan membahas topik ini lebih lanjut di Forum Gambang Syafaat. Forum ini akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk berbagi pemikiran, pengalaman, dan wawasan kita tentang topik ini. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk bersama-sama belajar dan memahami lebih dalam tentang Qurban dan korban. Sampai jumpa di Forum Gambang Syafaat!

Referensi:

https://www.caknun.com/2018/qurban-dan-korban-lain-dong/ https://www.caknun.com/2023/allah-maha-ber-qurban/

(Redaksi Gambang Syafaat)

Lihat juga

Back to top button