FENOMENON MAA QALAM

(Mukaddimah Majelis Ilmu Maiyah Gambang Syafaat Semarang edisi Oktober 2023)

Fenomenon atau fenomena merujuk pada berbagai peristiwa, objek, atau situasi yang dapat diamati, dijelaskan, atau dipahami melalui pengalaman manusia. Fenomena adalah hasil interaksi antara realitas sejati dengan kemampuan manusia untuk mengamati dan merasakannya. Fenomena bisa sangat beragam, mulai dari fenomena alam seperti gerhana matahari dan gelombang pasang, hingga fenomena sosial seperti tren budaya atau perubahan perilaku masyarakat.

Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia merupakan kunci untuk memahami fenomena. Sebab pengetahuan adalah fondasi dari mana individu memproses, menginterpretasikan, dan merespons peristiwa dan situasi di dunia sekitarnya. Pengetahuan berfungsi sebagai kerangka kerja kognitif yang membantu individu dalam mencari pola atau hubungan yang relevan, menganalisis implikasi, dan mengambil kesimpulan mengenai sebuah fenomena.

Pengetahuan juga memungkinkan individu untuk melakukan penilaian kritis terhadap informasi dengan melakukan penelitian, bertanya kepada ahli, atau memeriksa sumber informasi tambahan untuk memperluas pemahaman. Kombinasi pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan, pengalaman, dan belajar terus menerus dapat membantu individu merespons dan menginterpretasikan fenomena dengan lebih baik. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, maka semakin kaya dan dalam pemahaman individu tentang dunia di sekitarnya.

Diturunkan setelah lima ayat pertama Surat Al-Alaq, Al-Quran Surat Al-Qalam ayat 1 menggarisbawahi pentingnya pena sebagai alat yang digunakan untuk menulis wahyu dan mengajarkan ilmu serta agama kepada manusia. Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala sesuatu yang ditulis dengannya. Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para rasul-Nya dan mencatat pengetahuan-pengetahuan dari Allah lainnya. Selain itu, menulis juga berfungsi untuk menyampaikan berita serta mendidik bangsa. Sekali lagi hal ini menunjukkan betapa krusialnya pengajaran dan pengetahuan dalam agama Islam. Sebab mencatat dan menyampaikan ilmu kepada orang lain erat hubungannya dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat manusia.

Tindakan seperti berbagi pengetahuan, mengajar, dan menyampaikan ilmu seringkali didorong oleh semangat altruisme. Altruisme adalah konsep dalam etika dan psikologi yang merujuk pada tindakan atau perilaku yang didasarkan pada keinginan untuk memberikan manfaat atau membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan pribadi atau keuntungan. Altruisme tidak boleh mengabaikan diri sendiri, tetapi mencari keseimbangan antara membantu orang lain dan menjaga kepentingan pribadi. Orang-orang yang berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan sering melakukannya dengan niat membantu orang lain atau umat manusia secara keseluruhan.

Maiyah berperan sebagai salah satu wadah di mana konsep altruisme dan pemahaman tentang berbagai fenomena dalam dunia ditekankan. Maiyah terbiasa merenungkan dan mendiskusikan berbagai aspek kehidupan dan fenomena sosial. Hal ini menciptakan kesempatan bagi seluruh jamaahnya untuk merenungkan cara memberikan manfaat bagi orang lain dan masyarakat secara keseluruhan, yang merupakan salah satu aspek dari altruisme.

Lalu, hal apa saja yang seharusnya dicermati dalam sebuah fenomena? Bagaimana cara manusia yang memiliki banyak keterbatasan mampu memahami seluruh aspek yang terlibat dalam sebuah fenomena? Bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dapat membantunya memahami fenomena? Mengapa Allah menuliskan atau mengabadikan berbagai fenomena di dalam Al-Quran? Bagaimana Maiyah sebagai komunitas berusaha untuk menyebarkan semangat altruisme demi melihat berbagai fenomena yang terjadi di dunia dengan lebih jernih?

(Redaksi Gambang Syafaat)

Lihat juga

Back to top button