Wardrobe Kemanusiaan

Sandang, pangan, papan dalam khazanah Maiyah yang sering Mbah Nun sampaikan bukanlah urutan kebutuhan ekonomi semata, melainkan urutan prioritas martabat kemanusiaan. Mbah Nun mendekontruksi pemahaman umum yang menganggap bahwa makan (pangan) adalah utama untuk hidup. Padahal jika manusia hanya mengejar makan ia tidak beda dengan hewan. Sandang menjadi utama, bentuk Martabat dan Identitas. Membedakan manusia dengan mahluk lain. Sandang itu harga diri dan akhlaq.
Umumnya manusia sekarang membalik; papan, pangan, sandang. Malah lebih parah, mengabaikan sandang. Padahal manusia menjadi manusia karena mengenal rasa malu, menutup aurat, dan memiliki etika. Sudah pasti tidak wajar manusia tanpa pakaian melakukan aktivitas harian. Maka sebelum cari makan, selesaikan dulu identitas dan kehormatannya.
Ironisnya manusia hari ini punya kecenderungan “menelanjangi diri”. Membuang rasa malu atau harga diri demi mendapatkan “makan” berupa proyek atau jabatan. Bagi Maiyah orang korupsi meninggalkan sandang demi papan.
Pangan sekunder sebagai kelangsungan hidup. Tidak boleh mencari makan dengan cara mengemis, mencuri, korupsi itu menghinakan diri sendiri. Mengorbankan “pakaian” demi “makanan”. Mbah Nun menekankan Pangan bukan sekadar nasi atau gandum atau MBG. Manusia terdiri tiga dimensi. Jasad, Akal, dan Rohani. Pangan Jasad perlu nutrisi. Pangan Akal perlu ilmu atau pengetahuan. Pangan Rohani untuk batin perlu spiritualitas atau dzikir, untuk rasa perlu seni atau keindahan.
Papan tersier sebagai eksistensi dan wilayah. Kepemilikan aset fisik rumah atau tanah bukanlah penentu utama kualitas manusia. Papan sering diartikan sempit sebagai rumah fisik. Dalam ilmu Maiyah, Papan juga ditarik ke makna filosofis Jawa: Empan Papan, pandai menempatkan diri. Di mana posisi saya di hadapan Allah? Di mana posisi saya di masyarakat? Apa peran saya di dunia ini? Orang yang punya rumah mewah tapi tidak tahu adab, tidak tahu sopan santun, atau pejabat yang tidak tahu diri hingga tidak melayani rakyat, disebut sebagai orang yang tidak mengerti Papan. Ia gagal menempatkan dirinya pada koordinat yang tepat atau pada maqam-nya.
Edisi Februari 2026 tepat di Ramadhan 1447 H, sudahkah ada kesadaran bagaimana kita menjaga kualitas Sandang? Betapa pentingnya menjaga kualitas Sandang. Mbah Nun dalam daur “Kehati-hatian Terhadap Pakaian Sosial” dengan lembut mengingatkan kita.
“Sedangkan manusia-manusia yang terpilih menjadi Nabi, sehingga sejak awal penciptakan memang didesain kualitas-kuantitasnya untuk peran itu, sangat berhati-hati dengan pakaian sosialnya.”
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkannya?”. (Al-An’am: 50).
Jangan sampai kita menstatiskan kehidupan yang dinamis. Semoga kita tidak termasuk yang tanpa sadar sudah menstatiskan kehidupan. Dalam daur Majelis Ilmu Muhammad Ainun Najib Ma’syar Maiyah Mahamanikam kita akan melingkar belajar bersama, bagaimana menjaga kualitas Sandang. Berupaya bersama membikin warderobe. Dari Prancis Kuno warderobe (warder = menjaga, robe = pakaian), yang artinya menjaga Sandang. Sandang kemanusiaan.






