SINAU TANPA PANGGUNG

Saya mencoba diam cukup lama ketika menyelami pesan dari Mbah Nun. Karena, kalau dipahami dengan terlalu cepat bisa jadi akan salah. Beliau tidak sedang memberi konsep apalagi strategi, tapi sedang mengajak kita untuk menurunkan ego.

Kata beliau, “Tak jaluk di tempat masing-masing gawe Sinau Bareng yo, ora kudu gedhe ngene iki ning pokoke nglumpuk wong limo, wong enem, wong pitu, wong sepuluh nglumpuk ora usah direncanakke nglumpuk ngono wae wes. Ngko lak metu-metu dhewe, hidayah Allah akan datang. Ojo khawatir, dan ora usah mencapai opo-opo sing penting sinau. Karena Allah memerintahkan kita untuk sinau, ora mulang-mulang uwong ning sinau bareng”. (https://youtube.com/shorts/3NtBiVOgvaY?si=0KxWiqRDfpGR3sFu)

Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, tapi sebetulnya mencubit keras. Mencubit kita yang terlalu percaya pada sistem, pada rencana, pada kemasan. Kita sering mengira kebenaran butuh panggung. Padahal kebenaran justru sering tersinggung oleh sorotan.

Dalam sinau versi Mbah Nun, yang penting bukan siapa yang bicara, tapi siapa yang bersedia belajar. Bukan siapa yang menguasai materi, tapi siapa yang rela mengosongkan diri. Karena belajar itu bukan menambah isi kepala, melainkan mengurangi kesombongan yang sudah terlanjur penuh.

Kata Mbah Nun, Gusti Allah meminta kita sinau. Bukan sekadar mulang (mengajar). Ini kalimat yang sederhana, tapi menyentil bagi sebagian orang. Mengajar itu nyaman. Posisi di atas. Belajar itu rawan. Posisi sejajar. Bahkan sering kali harus menunduk.

Sinau bareng berarti kita duduk tanpa gelar. Tanpa klaim. Tanpa niat menang. Kita datang membawa pertanyaan, bukan jawaban. Kita hadir bukan untuk membuktikan apa-apa, melainkan untuk memahami siapa diri kita di hadapan Allah dan sesama manusia.

Lima orang yang jujur bisa lebih dekat pada cahaya dibanding lima ratus orang yang sibuk mempertahankan pendapat. Karena hidayah tidak jatuh pada keramaian, melainkan pada kesiapan. Dan kesiapan sering kali lahir dari keheningan, bukan dari tepuk tangan.

Ketika Mbah Nun berkata “Ojo khawatir”, saya membacanya sebagai teguran halus. Kita ini terlalu khawatir pada hal-hal yang bukan urusan kita. Kita cemas pada hasil, pada dampak, pada pengaruh. Padahal tugas kita hanya sinau. Soal hidayah, itu wilayah Gusti Allah.

Sinau bareng mengajarkan kita satu hal penting: bahwa menjadi manusia itu tidak harus selalu tahu. Cukup mau belajar. Dan belajar bersama berarti saling menjaga agar tidak ada yang merasa paling benar, paling paham, atau paling dekat dengan Tuhan.

Maka kalau hari ini kita duduk berlima, berbincang tanpa kesimpulan, pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, itu bukan kegagalan. Itu justru tanda bahwa sinau sedang bekerja. Pelan. Dalam. Tanpa gaduh.

Mbah Nun tidak sedang membangun jamaah. Beliau sedang menjaga kemanusiaan. Agar kita tetap belajar. Tetap rendah hati. Tetap sadar bahwa di hadapan Gusti Allah, kita ini sama-sama murid.

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button