Qudrologika: Antara Idealisme Akal dan Realitas Transenden

Cerita dari Milad ke-15 Maneges Qudroh, 7 Februari 2026

Langit Magelang dikepung hujan selepas maghrib. Intesitas sedang namun tak kunjung reda. Udara pun tak kalah dinginnnya. Di saat yang sama sedulur Maneges Qudroh sedang menyalakan api kerinduan untuk melingkar dalam Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib pada Milad-nya yang Ke 15. Bertempat di Banyu Elo Rafting Mungkid, Magelang, acara berlangsung penuh gairah.

Ada yang spesial pada helatan Milad kali ini. Hadirnya Pakdhe-pakdhe Kiai Kanjeng seakan memberi booster tersendiri pada malam itu.  Dalam prolognya, Mas Wahyu menyampaikan bahwa tema Qudrologika merupakan refleksi atas usia 15 tahun Maneges Qudroh tentang  bagaimana seyogyanya Maneges Qudroh mampu melihat segala sesuatu melalui ilmu Qudroh.

Dibuka dengan nomor Pambuko, Pakdhe-pakdhe Kiai Kanjeng mengahantarkan sinau bareng kali ini dengan nada-nada kontemplatifnya. Mewakili panitia, Kang Adi Suryo menyambut jamaah dengan penuh sukacita mengingat Milad MQ yang sedianya dilakukan sederhana, tapi justru terlaksana secara meriah. “Sing maune sekedar gawe sego kluban, tak terasa kita bisa melaksanakan rangkaian acara yang luar biasa,” tambahnya.

Lihat juga

Hadir membersamai, Redaktur Maiyah (Redma) yaitu Mas Harianto, Mas Helmi, dan Mas Jamal, juga Pak Sutanto Mendut dan Mas Anang Imamudin yang merupakan sesepuh dan senior Maneges Qudroh dari Magelang.

Mas Harianto dalam sambutan awalnya dengan cerita tentang 3 orang dengan langkah yang sama, kecepatannya sama, tujuannya sama yaitu masjid. Tetapi sampai di masjid ternyata berbeda beda, yang pertama buru-buru ke toilet, yang satu menukar sandal, yang satu segera ambil wudhu untuk segera sholat. Motivasinya seseorang dan orientasinya seseorang meskipun aplikasinya sama itu akan menentukan dimana titik akhirnya dan itu akan sangat jauh berbeda. “Kita berharap bahwa qudroh kita malam hari ini berada di satu forum yang mulia ini berangkat atas iradah, atas niat kita, motivasi kita yang benar-benar suci,” pungkasnya.

Menyambung diskusi, Mas Helmi bahwasannya suasan yang kita alami malam hari ini sendiri sudah merupakan jalan kita mendapatkan ilmu. Kehadiran jamaah di tengah hujan, mulai dari Ibu-ibu sepuh hingga anak-anak, juga teman-teman dari berbagai tempat itu sudah menjadi sebuah ilmu, misalnya energi apa yang membuatnya hadir? Salah satu POV Maiyah menurut Mbah Nun ialah dari satu hal peristiwa, kita bisa sampai kepada banyak hal akan tetapi yang perlu dimengerti adalah dasar dari semua itu adalah keyakinan bahwa yang memberi ilmu adalah Allah SWT.

Menyitir Surat An-Nahl ayat 78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur,” Mas Helmi menambahkan bahwa sejatinya posisi dasar kita itu tidak tahu kecuali diberikan pemahaman oleh Allah SWT melalui berbagai cara termasuk diberi pendengaran, penglihatan, dan diberi akal. Sebagaimana ayat yang lain, “Wa ‘allama Ādamal asmā’a kullahā, tsumma ‘aradhahum ‘alal malā’ikati, faqāla “Anbi’ūnī bi asmā’i hā’ulā’i in kuntum shādiqīna.” (QS Al Baqarah ayat 31). Dimana ayat tersebut menerangkan keunggulan manusia daripada malaikat itu ilmu pengetahuannya.

“Di maiyah kita diajak untuk mandiri di dalam ngenyang (menawar-Red) mainstream ilmu. Apa yang disebut seni misalnya, itu tidak berlaku persis seperti yang di gedung kesenian, di kampus-kampus. Seni bisa seperti apa yang kita lakukan malam hari ini,” jelas Mas Helmi.

Ringkasnya, salah satu POV maiyah terhadap keadaan menurut mbah Nun, yaitu urip kui ruang yang luas dengan kama-kamar bernama a-b-c-d, politik, budaya dan lain-lain, atau sebuah ruang yang kita bisa masuk melalui seribu pintu? Realitasnya tunggal tapi bisa dimasuki dari berbagai macam pintu bukan sebaliknya. Hingga akhirnya ketika kita terbiasa mengolah, menawar yang mainstream itu maka hasilnya kita ‘pintar’ yang bermakna mampu berjarak dan mampu berfikir out of the box.

Dimoderatori Mas Bayu, diskusi semakin hangat. Mas Jamal menyambung dengan menyebut bahwa qudroh itu seperti istilah algoritma dimana sebuah sistem atau aturan yang sudah ditetapkan oleh penciptanya. Dimana jika kita milih a maka hasilnya akan b atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang telah ditetapkan. Sedang di saat yang sama Allah meminjamkan sedikit kepada kita upaya-upaya atau iradah dalam kita menjalani hidup. Qudroh berada dalam kekuasaan Allah, tetapi logika atau akal dan upaya (iradah) harus tunduk kepada qudrohnya Allah. “Misalnya kita berharap nanti panen, tetapi ternyata banyak hal yang bisa terjadi. Entah itu hama, entah itu cuaca, itulah bagian qudroh Allah yang tidak bisa kita pastikan 1+1 =2. Di sinilah logika itu harus tunduk kepada qudrohnya Allah, supaya kita tidak menjadi sombong,” tandasnya.

Sementara Mas Anang dengan gaya khasnya yang lebih suka tandang gawe di wilayah realitas menceritakan kisah idealitasnya dulu. “Ketika idealitas ketabrak realitas itu kembalinya kepada qudroh tadi,” ungkapnya energik.

Di tengah sesi diskusi Pak Tanto Mendut menyoroti tentang tata kelola desa dan ketahanan pangan desa di Indonesia khusunya di Magelang. “Anda Nyadran itu mangan turah-turah, di dunia ngga ada. Ingkung sewu bayangkan. Mantran Wetan itu harus ayam kampung 1000 dipotong setiap tahun. Piye kui? Kok ketahanan pangan, iki dibuang-buang e ayame,” tukasnya.

Setelah relaksasi dengan lagu-lagu persembahan Kiai Kanjemg, diskusi semakin menarik. Mas Harianto menambahkan satu khasanah tentang era hari ini dimana terjadi surplus pengetahuan tetapi defisit kebijaksanaan. Yang hilang dari peradaban hari ini adalah kebijaksanaan di saat pengetahuan mencapai titik overloadnya. Dunia ini pernah mengalami ketercerahan di era Rasullulah (abad ke 6 sampai 13) dimana kebijaksanaan menjadi kepalanya atau leadernya. Sedangkan barat justru sebaliknya menganggap era itu sebagai dark middle ages. Sampai kemudian barat menyimpulkan bahwa kegelapan itu karena kuranynya pengetahuan hingga munculnya Renaissance. Sejak saat itu pengetahuan menjadi barometer kesejahteraan. Sayangnya kebijaksanaan tidak diikutsertakan. Maka sejak abad 13 hingga sekarang mencapai puncaknya di abad 21 ini moralitas mengalami degradasi di titik terendahnya.

Milad Maneges Qudroh malam ini diakhiri dengan potong tumpeng dan shalawat bersama. Rintik hujan dan hembusan angin malam masih cukup menyergap. Semua hadirin tetap khidmad mengikuti acara hingga paripurna. Semoga sinau bareng Maneges Qudroh kali ini menjadi ruang bersama untuk terus merefleksikan nilai dan menjadi oase di tengah jaman yang sudah akhir ini. (WSB)

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button