Mijil

Mukaddimah Tuwuh Tresna Februari 2026

Pernahkah kita benar-benar bertanya: kita ini sedang hidup di waktu yang mana?
Di masa lalu yang kita rindukan dan pertahankan mati-matian?
Di masa kini yang kita jalani sekadar reaktif, hari ke hari?
Atau di masa depan yang kita bicarakan, tapi jarang kita siapkan dengan sungguh-sungguh?

Al-Qur’an, lewat Al-Hasyr ayat 18, tidak hanya menyuruh kita melihat ke belakang atau
menatap ke depan, tetapi mengajak kita mengulang-alik waktu dengan kesadaran: belajar
dari yang lalu, mengerjakan yang kini, dan menyiapkan yang akan datang—hingga hari yang
melampaui dunia.

Dalam catatan Mbah Nun, kita diajak menyadari bahwa orientasi waktu bukan perkara teknis
manajemen hidup, tapi perkara takwa. Karena ayat ini dibuka dan ditutup dengan ittaqullah.
Artinya, tanpa takwa, perhitungan masa depan mungkin bisa berubah jadi kecemasan,
ambisi, atau bahkan penyerahan diri pada kekuatan dunia. Dan ketika manusia lupa Allah,
dampaknya bukan hanya lupa tujuan, tapi lupa dirinya sendiri.

Malam ini kita memakai kata Mijil, yang berarti keluar atau lahir. Bukan sekadar kelahiran
biologis, dan bukan pula romantisme masa lalu. Mijil di sini adalah pertanyaan: apa yang
sedang lahir kembali?
Apakah sekedar simpul Maiyah di Kebumen?
Apakah kesadaran kita tentang belajar, sinau, dan hidup bersama?
Atau justru diri kita masing-masing, yang sedang atau akan mencoba keluar dari kesadaran
yang statis menuju kesadaran yang ulang-alik—membaca sejarah tanpa terjebak nostalgia,
menatap masa depan tanpa meninggalkan dunia hari ini?
Pertemuan ini tidak bertujuan memberi jawaban final. Kita tidak sedang mencari siapa yang
paling paham ayat, paling hafal tulisan Mbah Nun, atau paling rapi menyusun konsep. Kita
ingin berbagi ingatan, kegelisahan, dan kemungkinan: bagaimana menyiapkan hari esok
tanpa memutus hari ini, bagaimana merawat dunia tanpa kehilangan akhirat, dan
bagaimana Mijil ini benar-benar menjadi kelahiran—bukan sekadar pengulangan. (Redaksi Tuwuh Tresna)

Lihat juga

Back to top button