Illusion of Control
Mukaddimah Lumbung Bailorah Februari 2026

(1)
Sering kali, Ilusi telat sadar bahwa rasa mengendalikan keadaan bukanlah fakta, melainkan cerita yang dibangun oleh pikiran sendiri. Tanpa disadari, pikiran Ilusi mencari pola dan kepastian, lalu menenangkan diri dengan keyakinan bahwa Ilusi punya kendali. Meskipun itu hanya bias kognitif yang dirasa, karena Ilusi mempercayainya.
(2)
Ketika berhadapan dengan situasi yang tak pasti, Ilusi menyadari betapa sulit menerima bahwa hasil tak sepenuhnya bergantung padanya. Dalam kekacauan, pikiran Ilusi cenderung menciptakan kendali agar ketidakpastian terasa lebih bisa ditoleransi dan dikompromi.
(3)
Saat Ilusi terlibat langsung untuk memilih, memutuskan, dan bertindak, ada perasaan bahwa hasilnya pasti berkaitan dengan apapun yang sudah ia pikirkan dan lakukan. Refleks ini muncul bahkan ketika ia sadar mengatakan bahwa laku-nya tidak selalu berpengaruh terhadap hasil akhirnya.
(4)
Ada kepuasan tersendiri ketika Ilusi memilih sendiri, seolah keputusan itu mengikat masa depan yang akan ia alami. Padahal, di balik rasa aman itu, peluang sering kali tetap sama, yang berubah hanya persepsi Ilusi tentang kendali.
(5)
Ketika mengingat keberhasilan sebelumnya, Ilusi mudah tergoda untuk percaya bahwa itu adalah bukti kemampuannya mengendalikan keadaan. Jarang sekali Ilusi memberikan ruang pada kemungkinan bahwa waktu, konteks, dan lain hal juga ikut berperan.
(6)
Kendali terasa menenangkan. Rasa kendali memberikan Ilusi rasa aman, seolah dunia lebih bisa diprediksi, dan masa depan tidak sepenuhnya liar. Mungkin bukan karena Ilusi benar, tetapi karena Ilusi membutuhkannya.
(7)
Ada masa ketika rasa kendali membuat Ilusi bisa bertahan lebih lama dan berusaha lebih keras. Walau tak sepenuhnya akurat, ilusi kadang menjadi bahan bakar untuk terus bergerak.
(8)
Tapi, Ilusi juga belajar bahwa ilusi yang terus dipelihara bisa berubah menjadi kepercayaan diri berlebihan. Perlahan, Ilusi mulai menutup telinga terhadap risiko dan tanda peringatan, karena merasa terlalu yakin pada kendali yang Ilusi kira Ilusi miliki.
(9)
Di tengah ketidakpastian, Ilusi melihat betapa mudahnya orang percaya bahwa intuisi dan pengalaman pribadi bisa menaklukkan ancaman. Di sana, ilusi sering menyamar sebagai tenaga ahli.
(10)
Ilusi mengaku dan menyadari bahwa keberhasilan adalah bukti kemampuan diri, sembari ia melepaskan kegagalan sebagai sebuah kesalahan situasi. Cara berpikir ini terasa nyaman, tetapi sering kali tidak jujur terhadap kenyataan dan diri sendiri.
(11)
Ketika hasilnya baik, Ilusi mudah menyimpulkan bahwa keputusannya benar. Ketika hasilnya buruk, Ilusi meragukan diri sendiri. Baru selesai refleksi, Ilusi sadar bahwa kualitas keputusan tidak selalu berpengaruh pada hasilnya.
(12)
Mengenali ilusi membuat Ilusi lebih rendah hati terhadap batas kendali. Perlahan, Ilusi belajar memusatkan energi pada hal-hal yang benar-benar bisa Ilusi pengaruhi, dan melepaskan sisanya dengan lebih lapang.
(13)
Tiga belas februari hari ini atau nanti, Ilusi tahu bahwa yang bisa dia lakukan hanyalah mengambil keputusan terbaik, lalu berdamai dengan apa pun yang datang setelahnya.
–Lumbung Bailorah edisi Februari 2026






