Esensi Puasa Adalah Menahan, Membatasi, Mengendalikan, dan Memperbaiki Diri

Menyambut Bulan Suci Ramadan
Bulan Ramadan telah di depan mata. Itu artinya kita akan menjumpai ragam pernak-pernik yang identik dengan puasa Ramadan. Seperti tarawih, tadarus, sahur, imsak, ngabuburit, takjil, bukber, kolak, es sirup, dan lain-lain.
Dan seperti biasa, hampir semua ummat Islam di mana pun berada, selalu antusias menyambut datangnya bulan penuh berkah dan ampunan. Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita antusias untuk mengisi Ramadan dengan perbanyak ibadah? Ataukah kita lebih antusias pada hal-hal lain yang unfaedah?
Menelaah Kembali Arti Puasa
Puasa Ramadan hukumnya wajib. Karena wajib maka harus dilaksanakan oleh siapa pun yang memenuhi syarat berpuasa. Puasa sendiri menurut bahasa (etimologis) berasal dari kata Arab As-shaum atau Ash-shiyam yang berarti menahan diri (al-imsak) dari suatu tindakan. Secara harfiah, ini mencakup menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu yang membatalkan puasa itu sendiri. Kata ini juga sering dikaitkan dengan istilah Sansekerta “upawasa” yang berarti kekangan atau ritual mendekatkan diri pada Tuhan. Atau dalam bahasa Inggris, puasa segaris makna dengan istilah “pause‘. Yang artinya sama-sama menahan.
Dari pengertian di atas, kita dapat menarik satu kesimpulan bahwa esensi dari puasa adalah menahan. Membatasi diri. Mengendalikan hawa nafsu. Alias ngerem (lawannya ngegas). Atau ngempet. Menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sejak fajar hingga waktu magrib.
Semakin Memudarnya Esensi Puasa
Faktanya, esensi puasa yakni menahan diri sangatlah kontras dengan apa yang tersaji di wajah masyarakat saat ini. Saya ambil satu contoh. Di daerah Gemolong tempat saya tinggal, salah satu titik pusat perjajanan duniawi ada di area Taman Edupark Gemolong. Di hari biasa, lokasi tersebut sangat ramai pedagang kaki lima yang berjajar di trotoar. Ada yang jual kue crepes, siomay, cireng, cilok, es teller, corndog, lumpia, hingga takoyaki.
Dan seperti Ramadan tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali pedagang dadakan yang kemudian ikut menjajakan penganan di sepanjang trotoar Taman Edupark Gemolong. Ada lapak es kuwut, kopi kenangan, jagung bakar, kolak, pecel puli bongko, jasuke, corndog, dan masih banyak lagi.
Dapat dipastikan jelang waktu berbuka (ngabuburit), mulai pukul empat sore, jalanan di sepanjang Taman Edupark macet parah. Semua orang tumplek blek berburu menu takjil bebarengan. Setiap kali melihat pemandangan crowded seperti itu, saya trimo ngalah. Menghindar dari kerumunan. Dan memilih mencari menu buka di tempat yang lain.
Esensi puasa itu menahan (membatasi diri), akan tetapi banyak dari kita justru bersikap melampiaskan. Aneka makanan dan minuman yang menggugah selera dibeli. Diborong semua. Seolah kita merasa kuat dan mampu melahap—menghabiskan menu-menu itu. Kita dibuat kalap oleh nafsu kita sendiri. Kita tidak berbuka dengan secukupnya dan sewajarnya tetapi lebih seperti “balas dendam” lantaran seharian tak boleh makan.
Ramadan Bukannya Hemat, Malah Lebih Boros dari Hari-hari Biasa
Bukan hanya aneka jajanan pedagang kaki lima yang “menggoda” kiita, varian iklan di televisi dan postingan di media sosial juga tak kalah gencar “merayu” kita. Mereka mengiklankan apa saja yang dikaitkan dengan puasa. Kata-kata atau kalimat bombastis digunakan para pengiklan supaya menarik minat orang-orang yang melihatnya.
“Makan anu setiap sahur, badan tetap bertenaga selama berpuasa.”
“Minum larutan ini, puasa jadi tidak lemas meski beraktivitas.”
“Sirup ini memberi kesegaran tak terkira saat berbuka puasa.”
“Biskuit ini sangat cocok untuk menu sahur dan berbuka.”
“Semprot dengan ini, nafas tetap segar seharian hingga saat berbuka.”
Semua kalimat iklan dibungkus halus sedemikian rupa sehingga masyarakat tergiur untuk membelinya. Padahal merasa lemas, capek, ngantuk, lapar, haus, nafas bau, saat berpuasa itu wajar. Kondisi yang lumrah. Justru kalau tidak merasa lemas dan lapar, jangan-jangan tidak berpuasa. Dan letak “kelezatan” berpuasa itu di antaranya merasakan yang namanya lemas, lapar, dan dahaga.
Saya masih ingat betul pesan sederhana dari Mbah Nun yang cukup mengena. Bahwa rasa lapar saat berpuasa mengajari kita untuk mensyukuri nikmat bisa makan enak dan perut kenyang. Begitu juga rasa haus dahaga. Rasa lemah, lemas, lelah, letih, loyo, saat menjalani shiyam, mengajari kita untuk mensyukuri nikmat badan sehat dan kuat. (Semoga Simbah dianugerahi kesehatan lahir batin, Amiiin). Tidak marah-marah, tidak bicara kotor (misuh), tidak ngrasaniorang, dan tidak berhubungan intim di siang bolong mengajarkan kita meresapi nikmatinya bersabar.
Dalam hidup memang lebih gampang ngegas daripada ngerem. Namun kalau ngegas terus tanpa ngerem juga berbahaya. Bisa nabrak, nubruk, atau malah mblusuk masuk ke jurang. Idealnya, antara ngegas dan ngerem mesti seimbang.
Kalau yang dituruti adalah nafsu mata, lidah, perut, maka hari-hari Ramadan menawarkan banyak sekali menu jajanan (makanan dan minuman) yang menggoda kita untuk membelinya. Padahal saat Ramadan hanya ada dua kali momen makan besar. Berbuka dan sahur. Secara logika, kita bisa lebih menghemat anggaran dari hari biasa yang makan bisa sampai tiga empat kali. Namun faktanya pengeluaran di bulan Ramadan justru lebih boros dibanding bulan di luar Ramadan. Kok bisa? Karena kita tidak mampu membatasi dan mengendalikan diri. Apa saja dibeli, dimakan yang sekiranya dapat memuaskan nafsu kita setelah terkekang selama empat belas jam.
Puasa Adalah Ibadah Paling Rahasia
Selain menahan atau mengendalikan diri, esensi lain dari puasa adalah ibadah yang rahasia. Kenapa rahasia? Karena hanya Tuhan dan pelaku puasa itu sendiri yang tahu, apakah ia berpuasa atau tidak. Orang lain sama sekali tidak dapat mendeteksi seseorang, apakah ia sedang berpuasa atau tidak.
Saking rahasianya, dalam sebuah hadist Qudsi (wahyu yang bersumber dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad tanpa perantara malaikat melainkan melalui ilham atau mimpi, dan redaksinya disusun oleh Nabi sendiri) Tuhan menyampaikan yang intinya; “Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan membalasnya” (HR. Bukhari & Muslim).
Jadi, puasa itu ibadah yang sangat private di mata Allah. Di sana Tuhan memberlakukan “hak prerogatif”Nya atas puasa hamba-hambaNya. Hanya Dia sendiri yang mutlak tahu, balasan (pahala) apa yang akan diberikan kepada para ahli puasa.
Ramadan Menjadi Momentum Perbaiki Diri
Rasanya tak ada kata lain selain bersyukur, karena kita masih diperjumpakan kembali dengan bulan suci Ramadan. Apa pun kondisi keadaan kita sekarang, mari perbaiki niat (dan sikap) dengan sungguh-sungguh untuk menjalani Ramadan dengan ibadah sebaik-baiknya.
Tuhan Maha Baik. Atas Kebaikan-Nya itulah Tuhan tidak menagih kita berhasil atau tidak dalam menuntaskan puasa dan melawan hawa nafsu sepanjang Ramadan. Namun yang Tuhan nilai lebih pada upaya–usaha kesungguhan kita dalam memaknai puasa sebagai momentum refleksi, kontemplasi, dan perbaikan diri. Baik secara spiritual maupun sosial.
Gemolong, 17 Februari 2026






