CECIKAL, BEBAKAL, TETINGGAL

(Mukaddimah Majelis Ilmu Maiyah Damar Kedhaton Gresik edisi Oktober 2023)

Harus diakui memang, dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari, betapa masyarakat Jawa sungguhlah lekat dengan nilai-nilai spiritualitas. Tidak melulu diartikan dengan pemahaman agama tertentu, tapi orang Jawa begitu kaya akan aktivitas penanda, yang dapat dilihat sebagai bentuk ikhtiar untuk menjaga kesatuan dan keselarasan paket antara yang jasmani dan ruhani, lahir dan batin, yang sakral sekaligus yang profan.

Aktivitas penanda ini merentang sepanjang perjalanan hidup manusia. Bahkan, lebih dari itu, jejaknya pun dapat kita lacak sejak manusia dilahirkan. Sedari masih di dalam kandungan, sang janin pun diajak mengalami ritual mapati dan mitoni sebagai penanda. Saat ia lahir, hadirlah tradisi brokohan, nandur ari-ari, puputan. Jika ia lelaki, kelak saat jelang aqil baligh, ia menjalani ritual supitan. Hal ini pun berlanjut hingga saat ia bersiap membangun rumah tangga ; ada ritual siraman, panggih manten, dan seterusnya. 

Perlu juga dicermati, pada masing-masing ritual tersebut, terdapat serangkaian proses yang tidak sederhana, namun agung dan sakral. Di dalamnya memuat ungkapan yang acapkali tak lugas, harapan dan doa yang dikemas serupa simbol lewat benda. Yang pasti ialah, aktivitas penanda itu memikul misi utama : nasihat dan doa.

Tak sekedar itu, kekayaan dan keluhuran tradisi yang lahir dan terus berdenyut di nadi kehidupan masyarakat Jawa juga mewujud lewat aneka petuah, falsafah, adagium, dan sejenisnya, yang menjadi pedoman dan pemandu orang Jawa dalam melakoni hidup. Salah satunya ialah ; Cecikal, Bebakal, Tetinggal.

Di suatu kesempatan Maiyahan, Mbah Nun pernah mengulas ini. Kita, anak cucu beliau, jamaah Maiyah, seakan diingatkan kembali oleh beliau agar supaya dalam menjalani dan memaknai kehidupan, tak terlepas dari cakrawala proses panjang, alam pikir yang menginterval sejak titik awal mula hingga fase pasca. Falsafah Cecikal – Bebakal – Tetinggal memandu kita untuk mencoba melihat setiap sesuatu dengan pemetaan menyeluruh; hulu – hilirnya, ujung – pangkalnya, berikut kontinuasinya.

Cara pandang yang demikian menuntun pelakunya untuk terhindar dari penglihatan yang terputus. Bahwa apa yang kita terima-alami-nikmati hari ini, tak lepas dari Tetinggal para pendahulu kita. Bahwa benih yang sedang kita semai hari ini, esok akan kita kawal tumbuh-berkembangnya, dan kelak kita wariskan pada penerus kita.

Jika sejenak kita menaruh perhatian pada gejala kekininian, di mana ragam kemudahan dan ke-serba cepat-an kian menjadi arus utama, yang berseiring dengan keberlimpahan arus informasi, maka benak kita pun lekas terpojok oleh salah satu pertanyaan, misalnya : mampukah kita meletakkan Tetinggal yang dengannya menjadi bekal bagi penerus kita untuk mengarifi dan membijaki kahanan ini? Tetinggal berwujud apakah yang layak dan perlu agar supaya nilai-nilai kemanusiaan anak cucu kita tetap terjaga dan dimampukan menghalau proses degradasi sistemik yang tengah terjadi?       

Dulur, masih senafas dengan ikhtiar munajat penghaturan doa untuk kesempurnaan pemulihan kesehatan Mbah Nun, mari melingkar kembali untuk menghayati ruang muhasabah sekaligus pengembaraan ilmu, di Majelis Ilmu Telulikuran Edisi ke-81, dengan pintu sekaligus payung tema “Cecikal, Bebakal, Tetinggal”, pada :

Ahad, 08 Oktober 2023

Pukul 19.23 WIB

Di Masjid Jami’ Nurul Jannah

Ds. Slempit Kec. Kedamean, Kab. Gresik

(Redaksi Damar Kedhaton)

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button