Ben Turah

Mukaddimah SabaMaiya Edisi Februari 2026

Menapaki zaman akhir sering kali memunculkan dua wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, ada yang
merasa hidup dalam kedamaian karena merasa sudah memiliki bekal yang cukup. Namun di sisi lain,
saat kita menyalakan TV, mendengarkan radio, hingga berselancar di lini masa media sosial,
kegaduhan menyerbu tanpa ampun. Bukan lagi sekadar banjir informasi, melainkan tsunami
informasi.

Setiap hari, algoritma mengepung ruang privat kita melalui gawai, menyuguhkan apa yang sedang viral
dan FYP. Panggung benar-salah masih menjadi panglima bagi sebagian orang, terutama jika ukurannya
hanya demi mencari followers, likes, dan komentar yang saling berbenturan agar suasana makin
ramai.

Hal yang menggelitik adalah ketika kita merasa sedang mati-matian membela kebenaran. Memang
secara niat mungkin benar, namun jika digali lebih dalam, terkadang kita sebenarnya sedang digiring
atau dalam istilah Jawanya dibombong.

Inilah yang menjadi pemantik diskusi kita kali ini, Cognitive Warfare. Sebuah wajah perang modern
yang jarang disadari. Perang ini tidak menyerang fisik secara langsung, melainkan menyerbu
kesadaran. Ia tidak menaklukkan wilayah secara geografis, melainkan menaklukkan persepsi hingga
menguasai tafsir atas kenyataan.

Melalui algoritma, kendali peladen (server), hingga rekayasa kecerdasan buatan (AI), realitas bisa
diputarbalikkan. Jika setahun lalu AI masih terlihat kaku, kini video dan suara bisa direkayasa dengan
presisi yang menakutkan. Sesuatu yang palsu tampak sangat meyakinkan, sementara kebenaran sejati
justru dituduh sebagai rekayasa.

Bayangkan jika video provokasi seorang tokoh sengaja disebar untuk memantik amarah massa,
padahal itu hanyalah produk AI. Tanpa pondasi yang kuat untuk memilah mana yang hak dan yang
batil, kita akan sangat mudah digilas oleh hembusan api fitnah. Cukup satu pemantik (trigger),
kekacauan (chaos) bisa tercipta dalam sekejap.

Beruntungnya, Jannatul Maiyah telah lama dibekali nilai-nilai untuk tidak menjadi pribadi yang Cekak,
Ciut, dan Cethek (dangkal pikiran dan sempit hati). Prinsip merespons zaman dengan “Ojo kagetan, Ojo
gumunan” seharusnya sudah mbalung sum-sum, menyatu dalam denyut jantung dan laku kehidupan
kita.

Namun, meski sudah memiliki “jimat” tersebut, kita tetap perlu “eling lan waspada”. Dalam perang
kognitif, titik lemah seseorang bukanlah pada kemiskinan senjata, melainkan pada kemiskinan
kesadaran.

Pada episode SabaMaiya ke-117 ini, kita akan merefleksikan kembali nilai-nilai Maiyah yang telah
disemai untuk memetakan fenomena ini. Kita akan belajar dari sejarah perang masa silam. Perang
Khandaq, yaitu tentang bagaimana kita menjaga jarak (membuat parit perlindungan) dari pengaruh
luar yang merusak. Dan Perang Uhud, Tentang pentingnya kewaspadaan agar tidak silau oleh
ghanimah (harta rampasan/kesenangan duniawi) yang bisa menyebabkan kekalahan telak.

Lantas, apa hubungannya dengan “Ben Turah”? Secara filosofis, ini adalah upaya agar kita tetap survive
dan tidak habis dilumat oleh agenda pihak luar. Minimal, kita masih memiliki turahe yaitu jati diri dan
prinsip yang tersisa. Kita tidak harus mengekor Barat, tapi bukan berarti anti-Barat; kita mengambil
saripati kebaikannya namun tetap menjaga kejernihan batin dan pengendalian diri khas Timur.
Ben turah kesadarannya, ben turah kedaulatannya.

Lihat juga

Back to top button