BELAJAR BERJALAN DI MILAD KE-70 SIMBAH BERSAMA WARO’ KAPRAWIRAN

Malam ini, Sabtu 27 Mei 2023, bintang sayup-sayup bersinar di atas kepalaku. Manis temaram bersinar bersama bulan sabit seiris di ujung langit. Menemaniku sepanjang perjalanan dari Ponorogo ke Ngawi bersama suami, untuk bertemu sedulur Ngawi, Magetan, dan Madiun di tikar rutinan Waro’ Kaprawiran. Bertawashshul dan mengirim doa atas Milad ke-70 Simbah Muhammad Ainun Nadjib.

Dulu, rutinan WK diadakan per kabupaten. Di mana tiap kabupaten memiliki kedaulatan untuk mengadakan rutinan sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah masing-masing. Dan setiap tiga bulan sekali kami dari empat kabupaten akan bertemu dan berkumpul di salah satu titik kabupaten untuk rutinan bersama. 

Namun, semenjak Covid-19 datang ke bumi, rutinan Waro’ Kaprawiran ikut terimbas sehingga mandeg jegreg beberapa tahun dan dipaksa merenungi apa salah dan dosa sehingga rutinan ngaji bareng itu harus dihentikan. Rutinan diadakan di rumah masing-masing. Sendirian.

Alhamdulillah Puji Syukur tak terkira pada Tuhan Yang Maha Kuasa, malam ini Rutinan Ngawi yang diadakan setiap Sabtu Pon kebetulan pas bertepatan dengan Milad ke-70 Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Sehingga acara WK dapat diadakan sekaligus mempertemukan empat kabupaten. Kembali kami bisa berkumpul bersama. Setelah sekian lama.

Mas Helmi mengawali dengan komando terpusat dari Kadipiro melalui Zoom serempak dengan semua simpul Maiyah se-Nusantara. Kami Waro’ Kaprawiran di Ngawi mengikuti melalui Zoom. Dengan Hp kecil bertengger di tripod. Dilanjutkan bertawashshul dan kirim doa khusus untuk Simbah yang dipimpin oleh Mas Islamiyanto. 

Setelah tawashshul usai, kami menunggu dulur-dulur Waro’ Kaprawiran yang lain hadir, sembari menyimak zoom dari Kadipiro terkait cerita-cerita dari Pak Nevi dan pak Joko Kamto tentang awal mula bertemu Simbah Cak Nun. Dahulu kala. 

Seiring cerita bapak-bapak Kiai Kanjeng bergulir, sedulur-sedulur wilayah Waro’ Kaprawiran setempat mulai berdatangan. Melingkar. Dan memenuhi pelataran mas Tyok Ngawi. Pukul 22.20 acara Waro’ Kaprawiran dimulai. Al-Fatihah dan tahlil menjadi awal kami membuka acara. Menyambung pada GustiAllah untuk ridho-Nya. Lantas shalawat Nariyah penuh cinta, mengiring bersama upaya kami agar Kanjeng.Nabi ikut serta di acara sederhana malam ini. Supaya dada kami menjadi tenteram. Pikiran menjadi bening. Sehingga pembicaraan kami terarah dengan baik, benar, dan indah. 

Kopi hilir mudik, rokok-rokok pemantik otak telah menyala, gorengan di piring-piring ngawe-ngawe minta dilahap. Ijol-ijolan ilmu dimulai. 

Sang Moderator sekaligus shohibul bait, Mas Tyok mengawali dengan judul rutinan malam ini. Dan wedar sekilas.

“Mosok Iki?” inilah tema Rutinan ngaji bareng malam ini. Yang memiliki arti “Inikah?”.

Mas Koko yang kebetulan tertua di lingkaran, di-tembak paksa langsung oleh moderator untuk bercerita lebih awal bagaimana asal-muasal mengenal Simbah seperti halnya Pak Nevi, Pak Joko Kamto atau bapak-bapak anggota KiaiKanjeng lainnya mengenal Simbah.

Sambil menyisir brewoknya yang memutih, Mas Koko bercerita. 

Pertama kali mengenal Simbah, saat itu beliau masih SD. Perkenalan bermula yaitu dari tulisan Simbah di Tabloid Monitor tentang Sekaten. Rupanya pola pikir Simbah tentang Sekaten dan polemiknya membuat Mas Koko kagum dan tak menyangka, memantik hal yang sebelumnya tak tersadarkan bagi khalayak. Dilanjut terus dari satu tabloid ke majalah, ke koran dan kaset-kaset. Begitulah cara beliau mengenal Simbah di era itu. Tahun 2000-an Mas Koko tak sengaja menemukan tabloid Nova yang menceritakan tentang kisah Mbak Via yang seorang artis dan menikah dengan Simbah. Stay di Jogja dan mendirikan TK Alhamdulillah. Nah, saat itulah mas Koko mencari TK Alhamdulillah. Menemukannya dan tertawan hatinya di Mocopat Syafaat. Lantas menggiat di Maiyah hingga sekarang. Di Waro’ Kaprawiran. 

“Apa yang didapat dari kinthil Simbah, Mas”? tanya Tyok

Yang pasti belajar menjadi manusia. Dan sungguh-sungguh adalah pelajaran penting dari Simbah. Selama ber-giat di Maiyah sejak tahun 2000-an hingga sekarang Mas Koko menekankan utamakan bersungguh-sungguh dalam hidup. Sungguh-sungguh menjadi manusia baik, sungguh-sungguh bekerja, sungguh-sungguh belajar, sungguh-sungguh mencintai keluarga, sungguh-sungguh dalam hal baik apapun. Apapun, digaris bawahi.

Dan tak lupa pesan untuk penggiat muda yang full tenaga, sesibuk apapun dalam ber-giat di rutinan Maiyah jangan lupakan kerjaan untuk menafkahi keluarga, jangan lupakan keluarga, jangan lupakan momong anak. Karena Waro’ Kaprawiran, Maiyahan itu bukan tujuan, namun jalan.

Karena tujuan utama tetap adalah Gusti Allah. Dan dalam menapaki jalan itu, jangan sampai lupa asas berpikir mudharat-manfaat. Simbah sering menekankan itu. Dalam ber-giat di jalan apapun dan dalam kehidupan sehari-hari, timbang-timbanglah selalu apakah ini membawa manfaat atau mudharat kepada pribadi masing-masing pula pada sekitar. Tanyakan pada hati dan pikiran,”Mosok iki dalanku. Masa sih ini jalanku? Masa sih ini pilihanku? Mosok iki manfaat?” demikian Mas Koko mengakhiri.

Mas Edi dan Mas Zainal dari Ngawi mengiyakan dan sepakat bahwa di Waro’ Kaprawiran ini bukan tujuan utama hidup. Namun jalan. Jalan untuk menata diri. Agar saat menuju tujuan yang sebenarnya kita semua selamat. 

“Mosok iki?”

Norman dari Madiun menambahkan bahwa itulah proses manusia dalam menemukan. Menemukan yang benar-benar untuk dirinya. Terus bertanya pada diri, apakah sudah benar atau belum atas apa yang ia pilih dan tapaki. Seperti kita semua teringat bagaimana proses jungkir baliknya Nabi Ibrahim dalam menemukan Tuhan. Ghirah yang tak tanggung-tanggung dijalani untuk menemukan.

Malam ini di Milad Simbah ke-70, kami, anak-anak Waro’ Kaprawiran belajar tentang sebuah pencarian dan menemu dengan cara sungguh-sungguh dan tak tanggung-tanggung. Kami belajar menimbang-nimbang jejak langkah kami dengan asas mudharat atau manfaat, hari ini maupun kelak. Sedangkan kepada tujuan, kami nengeri, niteni untuk pencahayaan dari Allah agar mata kami tahu benar mana jalan mana tujuan. Agar tak tertidur di kereta waktu. Begitu kata Simbah dalam lirik lagu beliau yang berjudul Tuhan Aku berguru Kepada-Mu. Sebuah lagu request Adung, jamaah dari Madiun.

Simbah, Sugeng Ambal Warsa Kaping 70. Terima kasih tak terkira atas asuhan Panjenengan kepada kami. Kami jadi paham dan mengenal kebajikan hidup. Dan memiliki kemauan lebih dekat kepada Allah dengan lebih serius lagi. Doakan kami, anak cucu yang masih merangkak-rangkak ini, lekas teguh berdiri. Dan senantiasa tatag

Alunan Hasbunallah bersama-sama menjadi penutup lingkar ijol-ijolan ilmu dan pemikiran malam ini. Daun pisang berjejer bersambung satu sama lain. Nasi hangat dituangkan. Lauk ala kadarnya dan kerupuk mengakrabkan makan bersama tengah malam itu. Ya Allah ridho. Ya Allah ridho. Ya Allah ridho. Amin.

Sekian.

Ponorogo, 28 Mei 2023

(Zaky Ardhiana Devie/Redaksi Waro’ Kaprawiran) 

Lihat juga

Back to top button