Bangsa Meica
Mukaddimah Juguran Syafaat Februari 2026

Pada mulanya, seorang pendidik ditempatkan pada maqam kesadaran tertinggi: penjaga ilmu, penuntun akal sehat, dan pengasuh nurani masyarakat. Dalam bahasa lama, ia berada pada kesadaran Brahmana—bukan karena status sosial, melainkan karena tanggung jawab moralnya. Guru dan dosen adalah penyangga peradaban, mereka yang seharusnya merawat makna, menuntun kebenaran, dan menjaga martabat pengetahuan dari sekadar alat kekuasaan atau komoditas.
Namun realitas hari ini menunjukkan pergeseran yang getir. Dunia pendidikan semakin terjebak dalam logika pasar, administrasi, dan kepentingan politik. Ilmu diperdagangkan, gelar diperjualbelikan, dan kampus kerap lebih sibuk mengejar akreditasi serta angka-angka ketimbang kebijaksanaan. Dalam situasi ini, kesadaran pendidik justru terlempar jauh dari Brahmana, bahkan lebih dekat pada kesadaran Meica—menjadi asing di tanah sendiri, menyuarakan gagasan yang tak selalu berakar pada kebutuhan dan kearifan masyarakatnya.
Kondisi ini diperparah oleh sikap negara yang belum sungguh-sungguh memuliakan guru. Kesejahteraan pendidik masih sering menjadi janji yang tertunda, sementara tuntutan profesionalisme terus ditinggikan. Guru diminta mencerdaskan bangsa, tetapi hidup dalam kecemasan ekonomi; diminta menjaga nilai, tetapi dibiarkan berjuang sendiri. Juguran Syafaat malam ini mengajak kita bercermin: apakah kita sedang membangun peradaban ilmu, atau justru melahirkan Bangsa Meica—bangsa yang meminggirkan pendidiknya, lalu kehilangan arah pengetahuannya sendiri.
JUGURAN SYAFAAT | Edisi : 155 | Bangsa Meica | Jumat, 13 Februari 2026, 20.00 WIB | Hetero Space Banyumas, Purwokerto.






